Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2020

Hukum Permintaan dan Penawaran : Pengertian, Elastisitas, Teori, Contoh

Di setiap pasar selalu ada pembeli dan penjual baik dalam pasar barang , jasa maupun faktor produksi. Pembeli atau konsumen dengan kombinasi harga dan jumlah yang diminta selanjutnya dapat dikatakan sebagai sisi permintaan. Penjual dengan kombinasi harga dan jumlah yang ditawarkan selanjutnya disebut sisi penawaran.

Satuan-satuan rumahtangga atau individu sebagai satuan-satuan konsumen mempunyai berbagai kebutuhan barang dan jasa yang tidak terbatas jumlahnya. Konsumen mempunyai pendapatan uang yang diperoleh dari penjualan faktor produksi yang dimilikinya untuk dibelanjakan barang dan jasa yang memberi kepuasan tertinggi. Para produsen perusahaan saling bersaing memproduksi dan menawarkan barangnya. Tujuannya adalah untuk mencapai keuntungan maksimal.

Dalam berproduksi produsen mempunyai kendala yaitu bagaimana mereka harus mengalokasikan modalnya untuk membeli faktor produksi guna memperoleh sejumlah produk yang dapat memberikan keuntungan maksimum. Untuk itu produsen harus memilih dan memutuskan produk apa dan dalam jumlah berapa yang paling menguntungkan untuk diproduksi, serta dengan kombinasi faktor produksi yang bagaimana produk dihasilkan.

Hukum yang dikenal dengan penawaran dan permintaan memang  merupakan bagian penting dari dari pemahaman kita tentang sistem pasar. Pertama, bagaimana permintaan dan penawaran diturunkan. Kedua, faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan dan penawaran komoditi tertentu. Ketiga, bagaimana permintaan dan penawaran secara bersama-sama menentukan harga. Permintaan dan penawaran membantu pemahaman keberhasilan sistem harga dan juga kegagalannya, serta akibat-akibat campur tangan pemerintah dalam pengendalian harga.

Pengertian Penawaran Adalah

Hukum Permintaan dan Penawaran

Dalam sebuah definisi dijelaskan bawha penawaran adalah keseluruhan jumlah barang yang tersedia untuk ditawarkan pada berbagai tingkat harga tertentu dan waktu tertentu. Jika harga naik, jumlah barang yang ditawarkan bertambah. Begitu juga ketika harga turun, maka jumlah barang yang ditawarkan juga turun atau semakin sedikit.

Penawaran menggambarkan serangkaian kombinasi antara harga komoditas dengan jumlah yang ditawarkan oleh penjual atas komoditas tersebut. Kini kita bahas keadaan suatu barang yang diperjual belikan di pasar. Misalkan barang tersebut adalah barang Y misalnya beras, yang dihasilkan oleh produsen (producer).

Untuk menghasilkan barang Y produsen harus mempergunakan faktor-faktor produksi (factors of production, inputs). Faktor produksi tersebut mempunyai sifat yang khas, yaitu semakin banyak dipergunakan menurun produktivitasnya. Ini berarti, semakin banyak barang diproduksi akan menggunakan banyak faktor produksi, sehingga semakin menurun produktivitas faktor produksi tersebut.  Oleh karenanya dalam keadaan itu produsen meminta harga satuan yang lebih tinggi dari barang yang dihasilkannya, apabila diminta untuk menawarkan barang Y dalam jumlah yang lebih besar.

Sebaliknya untuk menghasilkan sekaligus menawarkan barang dalam jumlah lebih sedikit maka akan menggunakan faktor produksi yang sedikit pula, oleh karenanya produktivitas faktor produksi relatif lebih sedikit dari sebelumnya. Oleh karenanya produsen akan bersedia memporduksi atau menawarkan dengan harga yang lebih rendah.

Hukum Penawaran

Semakin tinggi harga, semakin banyak jumlah barang yang bersedia ditawarkan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat harga, semakin sedikit jumlah barang yang bersedia ditawarkan.

Hukum penawaran menggambarkan kombinasi antara harga komoditas dengan jumlah komoditas yang ditawarkan oleh penjual. Hukum penawaran ini hanya berlaku disektor produsen, untuk disektor konsumen hukum yang berlaku adalah hukum permintaan. Syarat utama dalam hukum penawaran ini adalah faktor-faktor lain yang memengaruhi penawaran tetap dan tidak berubah (ceteris paribus). Untuk lebih detailnya silahkan baca kurva penawaran.

Kurva Penawaran

Kurva yang menghubungkan titik-titik kombinasi antara harga dengan jumlah barang yang diproduksi atau ditawarkan.  Kurva penawaran merupakan garis pembatas jumlah barang yang ditawarkan pada tingkat harga tertentu.

Semua jumlah diatas kurva itu mungkin ditawarkan oleh penjual akan tetapi jumlah dibawah kurva itu tidak mungkin, dengan anggapan bahwa kurva miring positif. Pada tingkat harga yang ditentukan, penjual bersedia menawarkan lebih sedikit tetapi penjual tidak mau menawarkan lebih banyak.

Dari segi jumlah yang ditawarkan, kurva menunjukkan harga minimum yang akan merangsang penjual untuk menjual berbagai macam jumlah di pasar. Penjual bersedia menerima harga yang lebih tinggi bagi suatu jumlah tertentu, tetapi penjual tidak bersedia menawarkan jumlah itu dengan harga yang lebih rendah. Konsep ini sering disebut dengan kesediaan minimum penjual menerima harga (willingness to accept ).

Kurva Penawaran (Supply Curve)


Gambar 1 menjelaskan bahwa pada harga P1 produsen beras mau menawarkan barangnya sebesar  Q1. Apabila masyarakat menghendaki produsen menambah produknya menjadi Q2 (misalkan karena pertambahan penduduk), maka produsen harus meningkatkan jumlah faktor produksi untuk meningkatkan produksi. Semakin banyak faktor produksi digunakan maka produktivitas faktor produksi semakin menurun.

Dengan semakin menurunnya produktivitas maka produsen harus menambah faktor produksi dengan tambahan lebih besar daripada tambahan sebelumnya (untuk memproduksi satu satuan produk). Kondisi ini akan mengakibatkan meningkatnya tambahan biaya atau marginal cost-nya. Oleh karenanya produsen hanya bersedia menambah produksinya apabila masyarakat mau membayar dengan harga yang lebih tinggi.

Seperti dicontohkan dalam gambar 1, pada harga P2 produsen mau memproduksi barangnya sebesar Q2. Terdapat hubungan positif antara jumlah produk dengan harga yang berlaku. Hubungan tersebut digambarkan oleh kurva penawaran.

Fungsi Penawaran 

Fungsi yang memperlihatkan jumlah yang ditawarkan (Q)  sebagai fungsi dari harga produk (Pq) dan harga faktor produksi (r, w) dan teknologi (T). Formulasi fungsinya :

Y = f(Pq, r, w, T)

Perubahan harga barang, faktor selain harga tidak berubah (ceteris paribus) menyebabkan perpindahan di sepanjang kurva atau menggambarkan perubahan jumlah yang ditawarkan. Hal ini disebabkan karena perubahan harga hanya akan mempengaruhi jumlah yang ditawarkan atau hanya akan merubah titik-titik kombinasi antara harga dengan jumlah yang ditawarkan.

Sedangkan perubahan variabel selain harga akan mengakibatkan pergeseran kurva penawaran, artinya perubahan faktor tersebut akan menyebabkan penambahan atau pengurangan jumlah barang yang ditawarkan pada tingkat harga yang sama.

Pergeseran Kurva Penawaran

Pergeseran Kurva Penawaran

Beberapa faktor penyebab pergeseran penawaran diantaranya: teknologi, harga faktor produksi. Misalkan dengan adanya perbaikan teknologi dalam proses produksi, sehingga dengan jumlah faktor produksi yang sama dapat dihasilkan barang (Q) dalam jumlah yang lebih banyak. Hal ini mengakibatkan pergeseran kurva penawaran ke kanan (Gambar a).

Biaya satuan dari suatu barang yang dihasilkan dengan perbaikan teknologi dapat ditekan lebih murah, atau dengan biaya yang sama dapat dihasilkan barang dengan kuantitas lebih banyak. Sebaliknya kegagalan panen (proses produksi) mengakibatkan pergeseran kurva ke kiri, (Gambar b) karena dengan sejumlah faktor produksi yang sama dihasilkan barang dalam jumlah yang lebih kecil.

Kenaikan harga faktor produksi (price of inputs), sedangkan faktor lain tetap (ceteris paribus), maka semakin kecil keuntungan yang akan diperoleh dari produksi suatu komoditi. Produsen yang rasional akan mengurangi produksinya apabila keuntungan yang diperoleh semakin kecil. Oleh karenanya kenaikan harga faktor produksi menggeser kurva penawaran ke kiri menunjukkan bahwa sedikit jumlah yang ditawarkan pada tingkat harga, turunnya harga faktor produksi menggeser kurva penawaran ke kanan.

Perlu difahami antara perpindahan sepanjang kurva dan pergeseran kurva penawaran. Pergeseran kurva menunjukkan adanya pergeseran keseluruhan kurva penawaran. Ini mengandung arti adanya perubahan dalam jumlah yang ditawarkan pada tiap tingkat harga produk. Perpindahan sepanjang kurva menunjukkan adanya perubahan jumlah yang ditawarkan sebagai respon atas terjadinya perubahan harga produk.

Elastisitas Penawaran

Apabila mencermati pergerakan sepanjang kurva penawaran, maka diperlukan metode untuk membandingkan perubahan harga dan pengaruh perubahan harga ini terhadap jumlah yang ditawarkan. Metode semacam ini terdapat pada pengertian elastisitas (elasticity).

Pada umumnya angka elastisitas (coefficient of elasticity) dapat didefinisikan sebagai persentase perubahan dalam variabel yang tak bebas (dependent variable) debagi dengan persentase perubahan dalam variabel bebas (independent variable). Jika Q = f (X), maka Y adalah variabel yang tak bebas dan X adalah variabel bebas, karena dengan menemukan X dapat menentukan Y. Dalam pembahasan ini difokuskan pada elastisitas harga penawaran (price elasticity of supply).

Angka koefisien elastisitas harga penawaran (coefficient of price of supply) dapat didefinisikan sebagai persentase perubahan jumlah yang ditawarkan dibagi dengan persentase perubahan harga. Jika P adalah harga dan Q adalah jumlah yang ditawarkan, maka elastisitas penawaran dirumuskan sebagai berikut :


Elastisitas harga penawaran mengukur seberapa banyak penawaran barang dan jasa berubah ketika harganya berubah. Elastistas harga ditunjukkan dalam bentuk prosentase perubahan atas kuantitas yang ditawarkan sebagai akibat dari satu persen perubahan harga. Perhitungan koefisien elastisitas permintaan dengan menggunakan metode mid point adalah sebagai berikut :

Es = % perubahan kuantitas penawaran / % perubahan harga,

atau

Elastisitas Penawaran
Keterangan :
ES = Elastisitas penawaran
Q2 = Kuantitas penawaran setelah perubahan
Q1 = Kuantitas penawaran awal
P2 = Harga setelah perubahan
P1 = Harga awal

Jenis-Jenis Elastisitas Penawaran

Ada lima jenis elastisitas penawaran :
  1. Penawaran tidak elastis sempurna : elastisitas = 0. Penawaran tidak dapat ditambah pada tingkat harga berapapun, sehingga kurva penawaran (S) akan terlihat vertikal.
  2. Penawaran tidak elastis : elastisitas < 1. Perubahan penawaran lebih kecil dari perubahan harga, artinya perubahan harga mengakibatkan perubahan yang relatif kecil terhadap penawaran.
  3. Penawaran uniter elastis : elastisitas = 1. Perubahan penawaran sama dengan perubahan harga.
  4. Penawaran elastis : elastisitas > 1. Perubahan penawaran lebih besar dari perubahan harga, artinya perubahan harga mengakibatkan perubahan yang relatif besar terhadap penawaran.
  5. Penawaran elastis sempurna : elastisitas tak terhingga. Perusahaan dapat menyuplai berapapun kebutuhan pada satu tingkat harga tertentu. Perusahaan mampu menyuplai pada biaya per unit konstan dan tidak ada limit kapasitas produksi.

Faktor yang Mempengaruhi Elastisitas Penawaran

Koefisien elastisitas penawaran merupakan hal yang penting bagi konsumen untuk mengantisipasi perubahan harga saat ada perubahan variabel ekonomi terkait dengan produksi suatu barang. Ada sekitar 4 faktor yang sangat penting dalam menentukan elastisitas penawaran, yaitu :

1. Biaya dan Kapasitas Produksi

Penawaran akan cenderung tidak elastis (in-elastis) apabila salah satu dari hal-hal berikut terjadi :
  • Biaya produksi untuk menaikkan jumlah penawaran besar. Misalnya jika produksi saat ini telah mencapai skala ekonomis dan biaya rata-rata minimal, maka penambahan satu unit produksi akan menambah biaya rata-rata dan mengakibatkan produksi berada dalam skala tidak ekonomis. 
  • Atau kapasitas produksi telah terpakai penuh, sehingga penambahan kapasitas akan memerlukan pabrik/mesin baru, Misalnya, yang membutuhkan investasi besar. Sementara penawaran akan cenderung elastis jika yang terjadi adalah sebaliknya.

2. Jangka Waktu Analisis

Pengaruh waktu analisis terhadap elastisitas penawaran dibedakan menjadi tiga :
  • Jangka waktu yang sangat singkat, Pada jangka waktu yang sangat singkat, penjual/produsen tidak dapat menambah penawarannya walaupun terjadi kenaikan harga, sehingga penawaran menjadi tidak elastis sempurna. Hal ini disebabkan untuk memproduksi barang memerlukan waktu untuk proses produksi; 
  • Jangka pendek. Kapasitas produksi tidak dapat ditambah dalam jangka pendek, namun perusahaan masih dapat menaikkan produksi dengan kapasitas yang tersedia dengan memanfaatkan faktor-faktor produksi yang ada. Hasilnya, penawaran dapat dinaikkan dalam prosentase yang relatif kecil, sehingga penawaran tidak elastis. ;
  • Jangka panjang. Produksi dan jumlah penawaran barang lebih mudah dinaikkan dalam jangka panjang, sehingga penawaran lebih bersifat elastis. Hal ini berkonsekuensi bahwa faktor produksi tetap dapat berubah menjadi variabel produksi yang variabel. Hal ini memberikan arti bahwa variabel tetap dapat berubah dengan perubahan jumlah produk.

3. Stok Persediaan

Semakin besar persediaan, semakin elastis persediaan. Ini karena produsen dapat segera memenuhi kenaikan permintaan dengan persediaan yang ada. Kondisi inilah yang mendasari pemerintah untuk mempertahankan adanya stock pangan nasional guna menstabilkan harga.

4. Kemudahan Substitusi Faktor Froduksi/input 

Semakin tinggi mobilitas mesin (atau kapital lainnya) dan tenaga kerja, semakin elastis penawaran. Semakin elastis mobilitas kapital dan tenaga kerja, semakin mudah produsen memenuhi perubahan permintaan yang terjadi. Ini karena kapital dan tenaga kerja lebih fleksibel, sehingga dapat ditambah atau dikurangi sewaktu-waktu dibutuhkan.

Pengertian Permintaan Adalah

Hukum Permintaan

Dalam sebuah definisi dijelaskan bawha permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta ppada berbagai tingkat harga tertentu dan waktu tertentu. Jika harga naik, jumlah barang yang dibeli akan berkurang. Sebaliknya, ketika harga turun, maka jumlah barang yang dibeli akan semakin banyak.

Pembeli barang atau konsumen memenuhi kebutuhannya dengan mengkonsumsi barang yang diproduksi atau ditawarkan oleh produsen dikarenakan barang tersebut berguna dan harganya “sesuai” dengan keinginan konsumen.

Apabila harga barang tinggi maka hanya sedikit konsumen yang mampu membeli sehingga jumlah barang yang dibeli turun. Kalau harga barang diturunkan, lebih banyak konsumen yang mampu membelinya, akibatnya jumlah barang yang dibeli semakin  banyak.

Ada hubungan negatif antara jumlah barang yang diminta dengan harga barang tersebut. Penjelasan lain, orang mengkonsumsi barang untuk mendapatkan kepuasan. Semakin banyak barang yang dikonsumsi maka kepuasan semakin bertambah. Akan tetapi tambahan kepuasan ini semakin berkurang dengan semakin bertambahnya barang yang dikonsumsi.

Oleh karenanya, pembeli akan bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi untuk sejumlah barang yang memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Apabila pembelian barang dengan jumlah yang lebih besar, maka konsumen hanya mau membayar dengan harga yang relatif kecil. Hubungan ini digambarkan pada kurva permintaan dengan slope atau kemiringan negatif yang disajikan pada kurva permintaan

Hukum Permintaan

Semakin tinggi harga, semakin sedikit jumlah barang yang akan dibeli atau diminta oleh konsumen. Sebaliknya, semakin rendah tingkat harga, semakin banyak jumlah barang yang yang akan di beli atau diminta oleh konsumen.

Hukum permintaan menggambarkan kombinasi antara harga komoditas dengan jumlah komoditas yang dibeli atau diminta oleh konsumen. Hukum permintaan ini hanya berlaku disektor konsumen, untuk disektor produsen hukum yang berlaku adalah hukum penawaran. Syarat utama dalam hukum permintaan ini adalah faktor-faktor lain yang memengaruhi permintaan tetap dan tidak berubah (ceteris paribus). Untuk lebih detailnya silahkan baca kurva permintaan.

Kurva Permintaan

Kurva yang menghubungkan antara harga barang (ceteris paribus) dengan jumlah barang yang diminta. Kurva permintaan menggambarkan tingkat maksimum pembelian pada harga tertentu, ceteris paribus (keadaan lain tetap sama).

Jadi kurva permintaan sebenarnya merupakan garis pembatas. Kurva permintaan menggambarkan harga maksimum yang konsumen bersedia bayarkan untuk barang bermacam-macam jumlahnya per unit waktu.

Konsumen tidak bersedia membayar pada harga yang lebih tinggi untuk sejumlah tertentu, tetapi pada jumlah yang sama konsumen mau membayar dengan harga yang lebih rendah. Konsep ini disebut dengan kesediaan maksimum konsumen mau bayar atau willingness to pay.

Kurva Permintaan

Fungsi Permintaan 

Fungsi yang memperlihatkan hubungan antara jumlah yang diminta (Q)  sebagai fungsi dari harga produk (Pq) dan harga barang lain (Po) dan pendapatan atau Income (I)

Q = f(Pq, Po, I)

Kenaikan harga produk (ceteris paribus) akan menyebabkan penurunan jumlah barang yang diminta yang berarti terjadi perpindahan disepanjang kurva permintaan. Adapun perubahan variabel non harga akan menyebabkan pergeseran kurva permintaan, atau menyebabkan perubahan jumlah barang yang diminta pada tingkat harga tertentu.

Faktor-faktor yang menyebabkan pergeseran kurva permintaan diantaranya : perubahan pendapatan, selera, harga barang lain dan jumlah populasi. Pergeseran kurva permintaan disajikan pada kurva pergeseran kurva permintaan di bawah. Misalkan tingkat pendapatan masyarakat meningkat, berarti mereka mempunyai daya beli yang lebih tinggi. Akibatnya masyarakat bersedia membayar harga satuan produk lebih tinggi pada jumlah yang sama dengan sebelumnya.

Dengan kata lain konsumen mampu membeli produk yang lebih banyak pada tingkat harga yang sama dengan sebelumnya. Hal ini dijelaskan melalui pergeseran kurva permintaan ke kanan (Gambar a). Sebaliknya perubahan selera dari disukai menjadi kurang disukai menjadikan konsumen membeli produk dalam jumlah yang lebih sedikit pada tingkat harga yang sama dengan sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan pergeseran kurva permintaan ke kiri (Gambar b).

Perubahan harga barang lain berpengaruh pada pergeseran kurva permintaan. Kenaikan harga barang subtitusi (yang bersifat saling menggantikan) menggeser kurva permintaan komoditi ke kanan, lebih banyak yang dibeli pada setiap tingkat harga.

Sebagai contohnya kalau harga beras meningkat maka banyak orang mengalihkan makanan pokoknya dari beras ke jagung, sehingga dengan peningkatan harga beras maka akan menggeser permintaan jagung.

Kenaikan harga barang komplementernya (komoditi yang digunakan secara bersama-sama) akan menggeser kurva permintaan ke kiri. Lebih sedikit komoditi yang dibeli pada setiap tingkat harga. Sebagai contohnya kenaikan harga gula maka orang akan mengurangi permintaan gula, begitu juga banyak konsumen yang mengurangi konsumsi kopi karena gula dan kopi digunakan secara bersama-sama.

Pertumbuhan jumlah populasi atau penduduk menciptakan permintaan baru. Penduduk yang bertambah ini harus mempunyai daya beli sebelum permintaan berubah. Tambahan orang berusia kerja, tentunya akan menciptakan pendapatan baru. Jika ini terjadi, permintaan untuk semua komoditi yang dibeli oleh penghasil pendapatan baru akan meningkat.

Kenaikan jumlah penduduk akan menggeser kurva permintaan untuk komoditi ke arah kanan, yang menunjukkan bahwa akan lebih banyak komoditi yang dibeli pada setiap tingkat harga.


Elastisitas Permintaan

Seperti halnya pada sisi penawaran, pengaruh perubahan harga terhadap jumlah yang diminta dapat diketahui dengan menggunakan konsep elastisitas. Elastisitas harga atas permintaan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Dimana  P adalah harga dan Q adalah jumlah yang diminta.

Jenis-jenis Elastisitas Permintaan

Ada lima jenis elastisitas permintaan :

1. Permintaan tidak elastis sempurna : elastisitas = 0. 

Perubahan harga tidak mempengaruhi jumlah yang diminta. Dengan demikian, kurvanya berbentuk vertikal. Kurva berbentuk vertikal ini berarti bahwa berapapun harga yang ditawarkan, kuantitas barang/jasa tetap tidak berubah.

Contoh barang yang permintaannya tidak elastis sempurna adalah tanah (meskipun harganya naik terus, kuantitas yang tersedia tetap terbatas), lukisan milik pelukis yang telah meninggal (berapapun harga yang ditawar atas lukisan, pelukis tersebut tidak akan mampu menambah kuantitas lukisannya), dan contoh lainnya yang sejenis.

2. Permintaan tidak elastis : elastisitas < 1. 

Prosentase perubahan kuantitas permintaan < dari prosentase perubahan harga. Contoh permintaan tidak elastis ini dapat dilihat diantaranya pada produk kebutuhan.

Misalnya beras, meskipun harganya naik, orang akan tetap membutuhkan konsumsi beras sebagai makanan pokok. Karenanya, meskipun mungkin dapat dihemat penggunaannya, namun cenderung tidak akan sebesar kenaikan harga yang terjadi. Sebaliknya pula, jika harga beras turun konsumen tidak akan menambah konsumsinya sebesar penurunan harga. Ini karena konsumsi beras memiliki keterbatasan (misalnya rasa kenyang).

Contoh lainnya yang sejenis adalah bensin. Jika harga bensin naik, tingkat penurunan penggunaannya biasanya tidak sebesar tingkat kenaikan harganya. Ini karena kita tetap membutuhkan bensin untuk bepergian. Sama halnya, ketika harganya turun, kita juga tidak mungkin bepergian terus menerus demi menikmati penurunan harga tersebut. Karakteristik produk yang seperti ini mengakibatkan permintaan menjadi tidak elastis.

3. Permintaan uniter elastis : elastisitas = 1. 

Prosentase perubahan kuantitas permintaan = prosentase perubahan harga. Contoh produk yang elastisitasnya uniter tidak dapat disebutkan secara spesifik. Jenis permintaan ini sebenarnya lebih sebagai pembatas antara permintaan elastis dan tidak elastis, sehingga belum tentu ada produk yang dapat dikatakan memiliki permintaan uniter elastis.

4. Permintaan elastis : elastisitas > 1. 

Prosentase perubahan kuantitas permintaan > prosentase perubahan harga. Ini sering terjadi pada produk yang mudah dicari substitusinya. Misalnya saja pakaian, makanan ringan, dan lain sebagainya. Ketika harganya naik, konsumen akan dengan mudah menemukan barang penggantinya.

5. Permintaan elastis sempurna : elastisitas tak terhingga. 

Dimana pada suatu harga tertentu pasar sanggup membeli semua barang yang ada di pasar. Namun, kenaikan harga sedikit saja akan menjatuhkan permintaan menjadi 0. Dengan demikian, kurvanya berbentuk horisontal.

Contoh produk yang permintaannya bersifat tidak elastis sempurna diantaranya barang/jasa yang bersifat komoditi, yaitu barang/jasa yang memiliki karakteristik dan fungsi sama meskipun dijual di tempat yang berbeda atau diproduksi oleh produsen yang berbeda. Dengan demikian, secara nalar barang/jasa tersebut seharusnya memiliki harga yang sama pula.

Misalnya saja paperclip dan pen tinta biasa (seperti pen merek S dan P yang rata-rata berharga 1000-1500). Jika kita pergi ke supermarket untuk membeli paperclip, misalnya, kita cenderung tidak akan memperhatikan perbedaan merek. Satu-satunya yang sering kita jadikan bahan perbandingan adalah harga, dimana kita akan membeli paperclip yang harganya paling murah (atau pada harga rata-rata yang diterima pasar).

Akibatnya, bagi perusahaan yang menjual paperclip diatas harga rata-rata, permintaan akan barangnya akan turun ke nol. Ini karena semua paperclip, meskipun harganya berbeda-beda, memberikan fungsi yang sama.

Elastisitas harga hanyalah merupakan sifat dari kurva permintaan saja. Elastisitas tersebut tidak menentukan bentuk kurva. Elastisitas harga permintaan ditentukan oleh banyak faktor. Beberapa hal yang mempengaruhi elastisitas permintaan :
  • Semakin banyak barang pengganti (subtitusi) bagi produk tersebut, semakin elastis permintaannya. 
  • Semakin banyak macam penggunaan produk semakin elastis permintaan akan produk tersebut. 
  • Produk yang mengambil bagian besar dari pendapatan konsumen sering memiliki permintaan yang lebih elastis dibandingkan produk yang hanya mengambil bagian pendapatan yang relatif kecil. 

Sebagai contohnya : permintaan mobil bersifat lebih elastis dari pada permintaan beras. Melalui grafik dapat dijelaskan bahwa apabila harga mendekati ujung atas kurva permintaan, kemungkinan permintaan lebih elastis daripada jika harga mendekati ujung bawah kurva permintaan.

Mekanisme Pembentukan Harga

Dalam persaingan murni, dan dalam keadaan yang paling sederhana, kurva penawaran dari produsen adalah fungsi dari dua variabel, yaitu harga produk dan jumlah barang yang dijual pada berbagai tingkat harga. Adapun kurva permintaan dari pembeli (konsumen) merupakan fungsi antara harga produk dengan jumlah barang yang mau dibeli konsumen.

Pembeli dan penjual melakukan tawar menawar atau interaksi sampai pada akhirnya dicapai suatu kesepakatan pada tingkat harga tertentu. Harga kesepakatan inilah yang selanjutnya disebut sebagai harga keseimbangan (equilibrium price), yaitu harga yang disepakati oleh pembeli maupun penjual atau suatu tingkat harga transaksi.

Harga pembelian dan penjualan yang disepakati oleh kedua belah pihak untuk jumlah barang tertentu adalah merupakan satu titik pada kurva penawaran dan juga merupakan satu titik pada kurva permintaan. Hal ini berarti bahwa harga yang disepakati kedua belah pihak berada pada perpotongan kurva permintaan dan penawaran. Keadaan ini disajikan pada kurva di bawah ini.

Kondisi keseimbangan menunjukkan adanya pasar yang jumlah diminta sama dengan jumlah yang ditawarkan (istilah lain : pasar “bersih” atau Clear). Kenaikan harga produk (P1) akan menyebabkan perubahan jumlah yang diminta menjadi Qd1 dan jumlah yang ditawarkan menjadi Qs1. Kondisi yang baru Qs1>Qd1 yang berarti terjadi kelebihan penawaran (excess supply). Hal ini menjadikan pasar tidak dalam keadaan bersih (clear).

Apabila dibiarkan tanpa campurtangan pemerintah, maka secara otomatis mekanisme pasar akan melakukan penyesuaian guna menyetabilkan kembali pada harga keseimbangan. Mekanismenya, pada kondisi perubahan harga dari Pe ke P1, berarti harga terjadi kelebihan penawaran atau surplus. Penjual takut barangnya tidak laku maka penjual bersedia menurunkan harga sehingga dapat melemparkan surplus ini, dan dengan demikian harga akan turun menuju harga keseimbangan Pe. 

Interaksi antara penjual dan pembeli atau konsumen dengan produsen akan membuat harga kesepakatan kembali pada Pe. Begitupun penurunan harga pada P2 menyebabkan kelebihan permintaan (excess demand). Hal ini menyebabkan terjadi kekurangan di pasar, dan harga akan naik kembali menuju Pe. Pembicaraan lebih detail mengenai faktor-faktor yang memegang peranan penting dalam penawaran dan permintaan dibicarakan dalam pembahasan lanjutan. 

Penawaran barang berkait erat dengan produksi dan biaya yang dibahas dalam teori produksi (Theory of Production) dan teori biaya produksi (Theory of Cost Production). Permintaan suatu barang terkait erat dengan konsumen dan akan dibicarakan mendalam dalam teori konsumsi atau permintaan konsumen (Theory of Individual Consumer Demand).

Contoh Soal Fungsi Permintaan dan Penawaran

1. Persamaan permintaan dan penawaran atas barang A adalah  QD = 100 – 2P dan     QS  = 20 + 5P, dimana P adalah tingkat harga yang dinyatakan dalam ribuan. 
  • Berdasarkan persamaan permintaan dan penawaran diatas, buatlah suatu tabel yang terdiri atas variabel harga (ribu rupiah), permintaan (unit) dan penawaran (unit) pada saat harga 2, 4, 6, 8, dan 10 !
  • Tentukan harga keseimbangan dan jumlah barang yang diperjualbelikan. Apakah yang terjadi (excess supply atau demand) pada harga Rp 2.500,00 dan pada harga Rp 12.000,00 ?
  • Gambarkan keadaan keseimbangan di pasar tersebut !
2. Persamaan permintaan dan penawaran atas barang X adalah:
 Qd = 100 – 2P dan Qs = 20 + 5P
P = tingkat harga yang dinyatakan dalam ratusan rupiah.
  • Berdasarkan persamaan tersebut, buat tabel permintaan dan penawaran saat harga 1, 2, 3, 4, dan 5. Tentukan tingkat harga dan jumlah barang pada kondisi ekuilibrium serta apa yang terjadi apabila kurva penawaran bergeser ke kiri sebagai akibat  tingginya harga-harga input? 
  • Apabila diketahui rata-rata harga sebesar 10 dan jumlah produk sebesar 30, hitunglah elastisitas harga atas permintaan dan penawaran.
https://www.viki.com/users/mustafalan/about
https://www.viki.com/users/abiabiz/about
https://www.viki.com/users/runimas/about

Baca selengkapnya

Pengertian Ekonomi Makro Adalah : Contoh, Ruang Lingkup, Tujuan, Permasalahan

Ekonomi Makro - Secara teori, ilmu ekonomi berusaha mengalisa segala macam kebutuhan dan hubungan antara variabel - variabel dalam ekonomi. dalam kesepatan sebelumnya juga dijelaskan bahwa Ilmu ekonomi dalam kajiannya memiliki berbagai macam bentuk dan jenis sesuai dengan fungsinya sendiri. Berdasarkan variabel ekonomi, ilmu ekonomi terbagi menjadi dua, yaitu ekonomi mikro dan ekonomi makro.

Apa yang dimaksud dengan ekonomi makro ? apa tujuan dari penerapan ekonomi makro ? Bagaimana ruang lingkup ekonomi makro ? seperti apa permasalahan yang terdapat didalam ekonomi makro? Bagaimana contoh penerapan ekonomi makro ?. Pada kesempatan kali ini, penulis akan berusaha menjawab seluruh pertanyaan diatas untuk memudahkan kamu dalam memahami ekonomi makro secara global.

Pengertian Ekonomi Makro Adalah

Pengertian Ekonomi Makro Adalah

Ilmu ekonomi makro (Macroeconomics) adalah merupakan salah satu cabang ilmu ekonomi yang mengkaji kegiatan perekonomian secara keseluruhan. Dengan kata lain, ekonomi makro merupakan ilmu ekonomi yang menganalisa keadaan atau kegiatan ekonomi secara agregat.

Tidak hanya membahasan seorang konsumen, seorang produsen, atau seorang pemilik faktor produksi, namun ekonomi makro lebih membahas pada keseluruhan tindakan para pengusaha, para konsumen, lembaga-lembaga keuangan, pemerintah, dan negara lain. Selain itu ekonomi mikro juga menganalisa bagaimana pengaruh tindakan - tindakan tersebut terhadap perekonomian secara keseluruhan (perekonomian agregat).

Sejarah ekonomi makro bermula sejak salah satu tokoh ekonomi dunia bernama JM keynes yang berasal dari  universitas cambridge inggris menulis sebuah buku dengan judul "the general theory of employment. Interest and money" yang ditulis pada tahun 1937.

Dalam teorinya, dia menjelaskan tentang sebuah teori ekonomi yang menunjukkan bahwa penganggaran dapat terjadi dan bahkan untuk jangka yang tidak terbatas. Para ahli ekonomi dimasanya pun membenarkan sampai sekarang dipraktekkan di banyak negara. dan kelompok tersebut disebut sebagai keynesian economist.

Pengertian Ekonomi Makro Menurut Para Ahli

Sebagai ilmu yang lahir pada tahun 1930an, banyak para ahli dan tokoh yang juga turut berperan dalam pengembangannya. Sehingga banyak para ahli yang memiliki definisi berbeda terkait dengan ekonomi makro tersebut. Berikut adalah definisi ekonomi makro menurut para ahli:

1. Robert S. Pindyck (2009)

Robert S. Pindyck adalah seorang ekonom Amerika, Profesor Ekonomi dan Keuangan Bank of Tokyo-Mitsubishi di Sloan School of Management di Massachusetts Institute of Technology. Dalam bukunya yang berjudul "Microeconomics" dia mendefinisikan ekonomi makro sebagai ilmu ekonomi yang menangani variabel agregat ekonomi, seperti: Tingkat dan rata-rata pertumbuhan produksi nasional, Suku bunga, Inflasi, dan Tingkat pengangguran.

2. Budiono (2001)

Sama dengan sadono sukirno, Budiono juga merupakan seorang peneliti dan dosen disalah satu universitas besar diindonesia. Dalam bukunya yang berjudul "Ekonomi Makro" dia mendefinisikanekonomi makro sebagai ilmu yang mempelajari tentang pokok ekonomi, baik jangka pendek maupun jangka panjang meliputi stabilitas dan pertumbuhan perekonomian suatu negara.

3. Paul Anthony Samuelson

Paul Anthony Samuelson ialah ekonom Amerika Serika dari Universitas Harvard. Dalam bukunya yang berjudul "Economics" dia mendefinisikan ekonomi makro sebagai cabang ilmu ekonomi yang mempelajari dan mengamati kinerja perekonomian secara komprehensif dan keseluruhan.

4. Sadono Sukirno (2000)

Sadono Sukirno merupakan seorang analis dan dosen disalah satu universitas besar di indonesia. dalam bukunya yang berjudul "Makro Ekonomi : Teori Pengantar" dia mendefinisikan ekonomi makro (macroeconomics) sebagai sebuah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari tentang kegiatan utama perekonomian secara komprehensif atau menyeluruh terhadap berbagai masalah pertumbuhan ekonomi.

Masalah - masalah tersebut meliputi: (1) Kegiatan ekonomi yang tidak stabil, (2) Inflasi, (3) Tingkat Pengangguran, (4) Neraca perdagangan serta pembayaran.

5. Muchtolifa

Muchtolifa merupakan seorang peneliti, penulis buku, dan juga pengajar di Unesa. Dalam bukunya yang berjudul "Ekonomi Makro" yang diterbitkan oleh Unesa University Press, dia mendefinisikan ekonomi makro sebagai pengetahuan ekonomi yang mempelajari sel – sel ekonomi secara keseluruhan, seperti pendapatan Nasional, Produksi Nasional, Investasi Nasional.

Tujuan Ekonomi Makro

Berbeda dengan ekonomi mikro yang bertujuan hanya mengkaji aktifitas ekonomi individu antara produsen dan konsumen atas suatu barang dan jasa. Lebih dari itu, ekonomi makro bertujuan untuk mengkaji dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan ekonomi secara keseluruhan (agregat).

Analisa - analisa dalam ekonomi makro juga dapat digunakan sebagai alat untuk menentukan arah kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah suatu negara. Selain itu, analisa ekonomi makro juga dapat digunakan dengan tujuan - tujuan sebagai berikut:

  1. Menjaga stabilitas ekonomi
  2. Menekan laju inflasi dalam suatu negara
  3. Meningkatkan pendapatan nasional
  4. Stabilisasi neraca pembayaran luar negeri
  5. Membantu distribusi pendapatan
  6. Membantu meningkatkan kapasitas produksi nasional (agregat)
  7. Mengurangi jumlah pengangguran
  8. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara

Masalah Ekonomi Makro

Ilmu Ekonomi makro menjadi salah satu cabang dari ilmu ekonomi, memiliki salah satu fungsi dalam memberikan solusi terhadap permasalahan kebijakan ekonomi secara makro. Permasalahan - permasalahan tersebut berkaitan dengan pengelolaan dan pengendalian perekonomian secara umum.

Selain itu, ekonomi makro juga bertugas dalam mengusahakan agar perekonomian bisa bekerja dan tumbuh secara seimbang, terhindar dari kondisi - kondisi yang dapat mengancam keseimbangan perekonomian nasional (agregat).

Terdapat tiga masalah utama ekonomi makro jangka pendek yang harus di waspadai dan harus diatasi setiap saat melalui kebijakan - kebijakan khusus sesuai dengan tingkat permasalahannya. Permasalahan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1.  Masalah inflasi

Secara umum inflasi dianggap sebagai salah satu masalah ekonomi yang selalu dialami oleh, hampir semua negara. Pembahasan tentang inflasi selalu dikaitkan dengan kenaikan harga. Hal tersebut dikarenakan harga dapat dikatakan sebagai salah satu indikator penting atas terjadinya inflasi dalam sebuah negara.

Secara teoritis, definisi inflasi merupakan suatu keadaan dimana terdapat kecenderungan kenaikan harga–harga secara umum dan terus menerus.  Namun, apabil dalam suatu negara hanya terjadi kenaikan satu atau beberapa barang (dan bersifat sementara), maka kondisi tersebut tidak dianggap sebagai inflasi. Kondisi yang demikian tidak dianggap sebagai suatu masalah dalam ekonomi makro dan tidak perlu adanya kebijakan khusus untuk mengatasinya. Namun, tetap perlu untuk di waspadai.

Walaupun inflasi tidak secara otomatis menurunkan standar hidup, namun inflasi tetap merupakan masalah, karena tiga alasan :
  • Inflasi dapat menyebakan penurunan efisiensi ekonomi
  • Inflasi dapat mengakibatkan redistribusi pendapatan diantara anggota mastarakat.
  • Inflasi dapat menyebkan perubahan out-put dan kesempatan ke dalam masyarakat.

2. Masalah Pengangguran 

Masalah ekonomi makro yang kedua adalah pengangguran. Dimana pengangguran ini terjadi karena jumlah angka kerja atau tenaga kerja melebihi tingkat kesempatan kerja yang tersedia. Sehingga lapangan pekerjaan tidak dapat menampung tenaga kerja secara keseluruhan.

Di negara-negara berkembang, petumbuhan jumlah angkatan kerja sering tidak di iringi dengan pertumbuhan kesempatan kerja. Ketimpangan tersebut mengakibatkan angka pengangguran cukup tinggi.

Tidak semua penduduk termasuk angkatan kerja, sedangkan angakatan kerja merupakan penduduk yang masuk dalam kategori usia anak dan usia muda. Usia kerja / angkatan kerja adalah penduduk dalam usia anatar 15 tahun sampai 59 tahun yang didasarkan pada tingkat kesempatan kerja penuh (full imployment).

Secara teoritis, perekonomian suatu negara akan dianggap mencapai tingkat kesempatan kerja penuh (full imployment), Apabila tenaga kerja yang tersedia seluruhnya digunakan dalam praktek perekonomiannya.

Definisi tingkat kesempatan kerja penuh (full imployment) memiliki makna yang sedikit berbeda. Hal tersebut berguna untuk menentukan apakah perekonomian telah mencapai full imployment atau belum. Namun, yang menjadi ukuran penting dalam mengukurnya bukanlah penggunaan tenaga kerja 100%, tetapi penggunaan tenaga kerja yang sedikit lebih rendah dari itu.

3. Masalah Ketimpangan Neraca Pembayaran

Definisi neraca pembayaran adalah laporan keuangan yang mencatat informasi dari segala transaksi yang terjadi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain dalam kurun waktu tertentu, biasanya satu tahun.

Informasi transaksi yang tercatat dalam neraca pembayaran meliputi barang- barang dan jasa, dalam bentuk ekspor maupun impor, penanaman modal di luar negeri, transaksi financiil misalnya pemberian atau penerimaan kredit dari atau kepada negara lain, dan transaksi- transaksi yang bersifat unilateral (transaksi sepihak atau transaksi satu arah)

Transaksi unilateral contohnya seperti pembayaran transfer dari orang- orang yang tinggal di luar negeri tidak sama dengan jumlah penerimaan yang diperoleh dari luar negeri, selisihnya dapat berupa surplus atau defisit pada neraca pembayaran.

Permasalahan pokoknya ada pada ketidakseimbangan dalam neraca pembayaran. Suatu negara dapat dikatakan bermasalah apabila neraca pembayaran cukup besar. dimana jumlah pembayaran ke luar negeri tidak sama dengan jumlah penerimaan yang diperoleh dari luar negeri, selisihnya dapat berupa surplus atau defisit pada neraca pembayaran. Jika kondisi demikian, maka diperlukan adanya suatu kebijakan pemerintah yang spesifik untuk mengatasinya.

Pada tingkatan ekonomi mikro, neraca pembayaran berkaitan langsung aktifitas internasional agregat, juga memberikan petunjuk apakah perekonomian suatu negara berada pada kondisi seimbangan atau bahkan sebaliknya.

Ruang Lingkup Ekonomi Makro

Sebagai salah satu cabang dari ilmu ekonomi, ekonomi makro memiliki ruang lingkup atau batasan teori yang dibahas didalamnya. Begitu juga dalam ilmu ekonomi mikro.  Adapun teori - teori yang dibahas dalam ekonomi makro adalah sebagai berikut:

1.  Teori Pendapatan Nasional

Secara umum, Pendapatan nasional dapat digunakan sebagai salah satu indikator dalam analisa ekonomi makro, Hal tersebut dikarenakan pendapatan nasional dianggap sebagai variabel penting guna mencari hubungan di antara variabel-variabel lain dalam ekonomi makro (seperti investasi, konsumsi, dan lainnya). Perubahan pendapatan nasional akan dapat mempengaruhi variabel - variabel yang lain. Baik itu pengaruh positif maupun pengaruh yang negatif.

Di dalam seluruh bahasan teori ekonomi makro, Pendapatan Nasional merupakan bagian yang paling menarik perhatian untuk dibicarakan. Hal tersebut dikarenakan pembahasan Pendapatan Nasional di anggap pilar utama (hal yang penting) penyangga Politik Ekonomi. Artinya, hampir semua kebijakan perekonomian difokuskan pada Pendapatan Nasional.

Adapun Subjek bahasan yang dapat dipelajari dalam teori pendapatan nasional ini secara umum adalah sebagai berikut:
  • Arti Penting Pendapatan Nasional
  • Jenis- jenis Pendapatan Nasional
  • Cara penghitungan Pendapatan Nasional
  • Hubungan Antara Konsep- Konsep Pendapatan
  • Pembagian Pendapatan Nasional

2. Teori Konsumsi Masyarakat

Pengeluaran konsumsi masyarakat juga dianggap sebagai salah satu variabel makro ekonomi. Hal tersebut di dasarkan pada sebuah teori yang menyatakan bahwa "Konsumsi seseorang berbanding lurus dengan pendapatannya". Secara tidak langsung teori tersebut juga menjelaskan bahwa "semakin besar pendapatan semakin besar pula pengeluran konsumsinya".

Perilaku tabungan juga dipengaruhi oleh faktor pendapatan. Dengan demikian maka jika pendapatan bertambah baik konsumsi maupun tabungan akan sama-sama bertambah.

Perbandingan besarnya tambahan pengeluaran konsumsi terhadap pendapatan disebut hasrat marginal untuk konsumsi atau MPC (Marginal Propensity To Consume), sedangkan besarnya tambahan tabungan terhadap pendapatan dinamakan hasrat marginal untuk menabung atau MPS (Marginal Propensity To Save).

Pebedaan antara masyarakat negara yang sudah maju dengan negara yang sedang berkembang bukan hanya terletak dalam atau dicerminkan oleh perbandingan relatif besar kecilnya angka MPC atau MPS, akan terjadi juga dalam pola konsumsi itu sendiri.

Pola konsumsi masyarakat yang sedang berkembang didominasi oleh konsumsi kebutuhan pokok atau kebutuhan primer. Sedang pada masyarakat yang sudah maju cenderung lebih banyak teralokasi kebutuhan sekunder atau tersier.

Adapun Subjek bahasan yang dapat dipelajari dalam teori konsumsi masyarakat ini secara umum adalah sebagai berikut:
  • Perilaku Konsumsi Masyarakat
  • Pola Konsumsi Masyarakat
  • Macam – Macam Teori Konsumsi

3. Teori Investasi

Investasi juga dianggap sebagai salah satu indikator penting dalam ekonomi makro yang berkaitan erat dengan pendapatan nasional. Hubungan antara kedua indikator tersebut memanglah sangat penting dan perlu untuk di analisa sebelum membentuk sebuah kebijakan. Hal tersebut juga melatarbelakangi mengapa dalam semua teori ekonomi makro indikator investasi dibahas dalam bagian tersendiri.

Berbagai macam fenomena (gejolak) terjadi dalam investasi (melalui proses multiplier) out-put nasional. Multiplier merupakan angka yang menggambarkan besarnya perubahan pendapatan nasional yang diakibatkan oleh berubahnya investasi. Dalam praktiknya, perubahan investasi pada suatu waktu menyebabkan tingkat pendapatan nasional turun berada dibawah kapasitas produksi potensial, dan sering juga pada suatu waktu menyebabkan pendapatan nasional meningkat jauh diatas kapasitas potensial.

Investasi merupakan salah satu masalah dalam ekonomi makro yang berkaitan langsung dengan besarnya pengharapan atas pendapatan (prospect of yield) dari penanaman barang modal dimasa yang akan datang. Pengharapan atas pendapatan masa depan tersebut dianggap sebagai faktor yang dapat menentukan besarnya investasi.

Terkait dnegan persoalan kapan atau dalam kondisi seperti apa seorang pengusaha akan mengeluarkan moda untuk investasi, ada dua teori yang membahasnya, (I) teori konvensional (klasik) dan (II) teori dari Keynes. Adapun Subjek bahasan yang dapat dipelajari dalam teori Investasi ini secara umum adalah sebagai berikut:
  • Macam - Macam Teori- Teori Investasi
  • Investasi dan Kapasitas Produksi
  • Pelaksanaan- Pelaksanaan Investasi

4. Teori Inflasi dan Defalasi

Pada bagian ini mengeksplorasi fenomena ganda ekonomi inflasi dan deflasi pada tingkat awal. Bahasan ini di awali dengan dengan mendefinisikan inflasi dan menjelaskan bagaimana hal itu diukur dalam ekonomi modern.

Kemudian mengeksplorasi pembangunan dua harga indeks utama, Indeks Harga Konsumen dan Indeks Harga Produsen, dan akan mengikuti bahwa dengan diskusi panjang tentang mengapa inflasi dan deflasi dapat mengancam perekonomian suatu negara (berbahaya).

Dengan menggunakan model yang sudah ada dalam bahasan ini, kita akan dapat mengetahui penyebab modern inflasi dan mempertimbangkan respon kebijakan dasar yang dirancang untuk menekan laju inflasi atau merangsang ekonomi keluar dari deflasi. Bahasan teori ini tidak menawarkan kata akhir tentang inflasi dan deflasi.

Adapun Subjek bahasan yang dapat dipelajari dalam teori teori kebijakan pemerintah ini secara umum adalah sebagai berikut:
  • Konsep Inlasi dan Deflasi
  • Proses Terjadinya Inflasi dan Deflasi
  • Dampak Terjadinya Inflasi dan Deflasi
  • Index Harga Konsumen
  • Index Harga Produsen

5. Teori Kebijakan Pemerintah

Ilmu ekonomi pada dasarnya berusaha untuk menganalisa dan mengkaji hubungan antara variable-variable ekonomi, baik itu variabel - variable mikro maupun variable makro. Sedangkan ilmu ekonomi terapan membahasan tentang persoalan kebijakan ekonomi yang perlu di terapkan dalam negara tertentu sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.

Setiap negara pastinya berharap masalah pengangguran dapat dikurangi dan diatasi. Harapan tersebut penting untuk direalisasikan melalui penerapan kebijakan yang sesuai.

Teori pertumbuhan ekonomi menjelaskan tentang faktor-faktor penting yang diperlukan untuk mewujudkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Teori tersebut mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan menjadi lebih pesat melalui kebijakan-kebijakan sebagai berikut:

Mengurangi kelajuan pertambahan penduduk, mengembangkan teknologi, meningkatkan tabungan, dan meningkatkan efisiensi penanaman modal (investasi) yang dijalankan.

Adapun Subjek bahasan yang dapat dipelajari dalam teori teori kebijakan pemerintah ini adalah sebagai berikut:
  • Kebijakan Fiskal
  • Kebijakan Moneter


    Contoh Ekonomi Makro

    Diakhir tulisan ini, saya akan memberikan beberapa contoh penerapan ilmu ekonomi makro dalam perekonomian indonesia. Tujuan pemberian contoh ini adalah agar kamu lebih mudah dalam memahami seperti apa ilmu ekonomi makro itu. Berikut adalah contoh - contohnya:
    1. Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Investasi, Dan Konsumsi Di Indonesia
    2. Analisis Penawaran Dan Permintaan Minyak Kelapa Sawit Di Indonesia
    3. Pengaruh Industri, Tenaga Kerja Industri Dan Pdrb Sektor Industri Terhadap Disparitas Pendapatan Antar Wilayah Provinsi Jawa Timur
    4. Analisa Perkembangan Ekonomi Awal Tahun 2015
    5. Kinerja, Prospek, Dan Kebijakan Investasi Di Indonesia
    6. Analisis Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Inflasi di Indonesia
    7. Deflasi dan Pembatasan Konsumsi (Deflation and Restraint of Consumption)
    8. Analisis Dampak Kebijakan Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia
    9. Analisis Dampak Kebijakan Fiskal Dan Moneter Terhadap Kinerja Makroekonomi Di Indonesia Dengan Model Structural Vector Autoregression (Svar)
    10. Analisis Kebijakan Uni Eropa Terhadap Perekonomian Sawit Indonesia (Penelitian Saya)
       
       
    Baca selengkapnya

    Pengertian Ekonomi Mikro Adalah : Contoh, Ruang Lingkup, Tujuan, dan Ciri - Cirinya

    Salah satu fokus studi yang berusaha menganalisis aktifitas penawaran dan permintaan yang berkaitan dengan produk, produksi, distribusi, kepuasan, dan lain sebagainya adalah ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi dalam kajiannya memiliki berbagai macam bentuk dan jenis sesuai dengan fungsinya sendiri.

    Secara umum, ilmu ekonomi diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro. Mengapa tidak menjadi satu ? Hal tersebut dikarenakan Kedua cabang ilmu ekonomi tersebut memiliki metode analisis dan penerapan yang tidak sama.

    Nah, sebenarnya apa yang disebut dengan ekonomi mikro ? Apa saja yang dibahan dalam ekonomi mikro ? bagaimana konsep ekonomi mikro ? Bagaimana ruang lingkup ekonomi mikor ? apa tujuan adanya ekonomi mikro ? apa saja teori - teori dalam ekonomi mikro ? dan bagaimana contoh penerapan ekonomi mikro ?.

    Pada kesempatan kali ini, penulis akan berusaha menjawab seluruh pertanyaan diatas dengan merangkum beberapa materi dengan harapan dapat bermanfaat untuk para pembaca semua.

    Pengertian Ekonomi Mikro Adalah

    Pengertian Ekonomi Mikro Adalah

    Ekonomi Mikro adalah cabang ilmu ekonomi yang fokus mengkaji aktifitas dan prilaku individu konsumen dan produsen dengan menggunakan konsep permintaan dan penawaran individu secara terperinci. Berbabasis pada ilmu matematic dan grafik, ekonomi mikro berusaha menggambarkan kondisi nyata individu dalam ekonomi mikro. Oleh karena itu, pelaku ekonomi yang terlibat dalam ekonomi mikro hanyalah produsen dan konsumen.

    Beberapa praktik penerapan ekonomi mikro dalam kondisi nyata seperti menggambarkan keseimbangan harga dalam pasar suatu produk X, menggambarkan efisiensi biaya yang dikeluarkan produsen dalam menghasilkan produk Y, menggambarkan tingkat kepuasan konsumen dalam mengkonsumsi produk Z, dan lain sebagainya.

    Pengertian Ekonomi Mikro Menurut Para Ahli

    Ilmu ekonomi mikro sendiri sudah dikenal dan sering dipraktikkan sejak tahun 1723. Banyak para tokoh dan ahli yang berperan penting dalam pengembangan ilmu ekonomi mikro tersebut. Seiring dengan perkembangannya, banyak para ahli yang memiliki definisi berbeda terkait dengan ekonomi mikro. Berikut adalah definisi ekonomi mikro menurut para ahli:

    1.  John Adam Smith

    Adam Smith merupakan seorang filsuf berkebangsaan Skotlandia yang menjadi pelopor ilmu ekonomi modern. Adam smith mendefinisikan ekonomi mikro sebagai subjek ekonomi yang selalu bersifat ekonomis rasional. Hal ini mengakibatkan para pelaku ekonomi harus mempertimbangkan hal-hal rasional sebelum membuat keputusan.

    2. David Ricardo

    David Ricardo merupakan seorang pakar ekonomi politik asal Inggris. david juga merupakan salah seorang pemikir ekonomi klasik yang paling berpengaruh. Di mendefinisikan ekonomi mikro sebagai suatu kondisi dimana para pelaku ekonomi telah mempunyai informasi tentang seluk beluk sebuah pasar. Dengan begitu ekonomi Mikro merupakan faktor penentu dari pasar ekonomi global.

    2. Sadono Sukirno

    Sadono Sukirno merupakan seorang analis ekonomi indonesia juga penulis buku berjudul "Pengantar Teori Mikroekonomi", dan dalam bukunya sadono mendefinisikan ekonomi mikro sebagai cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan harga-harga pasar dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjual-belikan.

    3. Marshall & Pigou

    Marshall & Pigou merupakan guru besar di Universitas Cambridge. Mereka mendefinisikan ekonomi mikro sebagai tingkat mobilitas yang tinggi dalam pasar sehingga membuat para pelaku ekonomi dapat langsung beradaptasi atau menyesuaikan perubahan-perubahan yang ada di pasar.

    5. Nicholas Gregory Mankiw

    Nicholas Gregory Mankiw merupakan seorang ahli ekonomi makro Amerika. Mankiw mendefinisikan ekonomi mikro sebagai ilmu yang membahas tentang peran individu-individu pelaku ekonomi, bagaimana rumah tangga dan perusahaan membuat keputusan, dan bagaimana mereka berinteraksi di dalam pasar tertentu.

    6. Wibowo dan Supriadi

    Wibowo dan Supriadi merupakan dosen, analisis, dan penulis buku yang berjudul "Mikro Ekonomi Islam", dalam bukunya mereka mendefinisikan ekonomi mikro sebagai cabang dari ilmu ekonomi yang khusus mempelajari tentang perilaku konsumen serta perusahaan dalam penentuan harga pasar dan kuantitas faktor input, barang atau jasa yang perjual belikan.

    7. Sadono Sukirno

    Sadono Sukirno merupakan guru besar di salah satu universitas terbesar di indonesia, dia juga merupakan penulis buku "Ekonomi Pembangunan", dan dalam bukunya dia mendefinisikanekonomi mikro sebagai bagian dari ilmu ekonomi yang memandang dan menganalisa kegiatan ekonomi yang ada dengan cara memperhatikan bagian terkecil dari semua kegiatan dalam ekonomi.

    Tujuan Ekonomi Mikro

    tujuan ekonomi mikro

    Adanya pengklasifikasian dari ilmu ekonomi secara umum menjadi ekonomi mikro dan makro tentu memiliki tujuan yang jelas. Tujuan ekonomi mikro untuk mengkaji aktifitas ekonomi individu antara produsen dan konsumen atas suatu barang dan jasa. Sedangkan tujuan ekonomi makro untuk mengkaji aktifitas ekonomi secara agregat.

    Dilain dari pada hal tersebut, terdapat beberapa tujuan lain dari ekonomi mikro.Tujuan dan sasaran analisis ekonomi mikro lebih dititikberatkan kepada bagaimana membuat pilihan untuk;
    1. Mewujudkan efisiensi dalam penggunaan faktor produksi untuk menghasilkan keuntungan maksimum pada sektor produsen
    2. Mencapai kepuasan maksimum atau penggunaan suatu barang (baik dalam segi harga, kualitas dan kuantitas barang) pada sektor konsumen.

    Ruang Lingkup Ekonomi Mikro

    Sebagai salah satu cabang dari ilmu ekonomi, ekonomi mikro memiliki ruang lingkup atau batasan teori yang dibahas didalamnya. Begitu juga dalam ilmu ekonomi makro.  Adapun teori - teori yang dibahas dalam ekonomi mikro adalah sebagai berikut:

    1.  Teori Permintaan & Penawaran

    Teori permintaan adalah teori atau dalil tentang hubungan antara jumlah barang yang diminta dengan harga. Hubungan tersebut bersifat negatif, Semakin tinggi harga, semakin sedikit jumlah barang yang akan dibeli atau diminta oleh konsumen. Sebaliknya, semakin rendah tingkat harga, semakin banyak jumlah barang yang yang akan di beli atau diminta oleh konsumen.

    Sedangkan teori penawaran adalah dalil tentang hubungan antara barang yang ditawarkan dengan harga. Hubungannya juga bersifat negatif, Semakin tinggi harga, semakin banyak jumlah barang yang bersedia ditawarkan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat harga, semakin sedikit jumlah barang yang bersedia ditawarkan.

    Adapun subjek bahasan dalam teori permintaan dan penawaran ini adalah sebagai berikut:

    2. Teori Konsumsi

    Teori konsumsi adalah teori atau dalil - dalil tentang prilaku konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Kurva permintaan pasar merupakan turunan dari kurva permintaan individu atau perorangan (individual consumer demand). Dimana Penurunan kurva permintaan individu melalui pendekatan teori konsumsi, dapat di jelaskan melalui hubungan titk-titik kombinasi optimal konsumsi dua barang atau lebih.

    Subjek bahasan yang dapat dipelajari dalam teori konsumsi ini secara umum adalah sebagai berikut:

    3. Teori Produksi

    Teori produksi adalah teori atau dalil yang menjelaskan tentang hubungan hasil produksi dengan penggunaan faktor - faktor produksi. Produsen yang rasional bukan berorientasi pada jumlah produksi (output) maksimum atau product oriented melainkan berorientasi pada keuntungan maksimum atau profit oriented.

    Oleh karenanya dalam proses produksi produsen tidak menggunakan faktor produksi sebanyak-banyaknya untuk memperoleh produksi yang tinggi melainkan mengoptimalkan penggunaan faktor produksi untuk memperoleh jumlah produksi yang bisa menghasilkan keuntungan yang tinggi atau maksimum.

    Subjek bahasan yang dapat kamu pelajari dalam teori produksi ini adalah sebagai berikut:

    4. Teori Biaya Produksi

    Teori biaya produksi adalah teori atau dalil yang menjelaskan hubungan antara biaya yang dikeluarkan pengusaha dengan seluruh faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi. Biaya tersebut dapat berupa biaya langsung maupun tidak langsung, seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, dan lain sebagainya.

    Tujuan utama dalam penerapan teori biaya ini adalah menciptakan efisiensi dalam input produksi guna memperoleh hasil maksimum. Namun selain dari pada itu, terdapat kegunaan lain daripada teori ini yaitu untuk membuat perencaan dalam kegiatan produksi, sebagai kontrol operasional biaya, dan sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan.

    Adapun subjek bahasan yang dapat kamu pelajari dalam teori biaya produksi ini adalah sebagai berikut:

    5. Teori Distribusi

    Teori distribusi adalah teori atau dalil yang menjelaskan tentang aktifitas penyaluran produk dari produksen kepada konsumen akhir yang melalui beberapa saluran distribusi. Dalam teori ini yang menjadi pertimbangan penting adalah biaya transportasi, waktu pemesanan, ketahanan produk, dan jarak antara produsen dengan konsumen.

    Selain berfungsi sebagai penyalur produk dari produsen ke konsumen, distribusi juga betugas dalam pengemasan produk serta promosi produk.

    Adapun subjek bahasan yang dapat kamu pelajari dalam teori distribusi ini adalah sebagai berikut:

    6. Teori Harga

    Teori harga adalah teori atau dalil yang menjelaskan tentang harga keseimbangan antara penjual dan pembeli. Pembeli dan penjual melakukan tawar menawar atau interaksi sampai pada akhirnya dicapai suatu kesepakatan pada tingkat harga tertentu.

    Harga kesepakatan inilah yang selanjutnya disebut sebagai harga keseimbangan (equilibrium price), yaitu harga yang disepakati oleh pembeli maupun penjual atau suatu tingkat harga transaksi.

    Harga pembelian dan penjualan yang disepakati oleh kedua belah pihak untuk jumlah barang tertentu adalah merupakan satu titik pada kurva penawaran dan juga merupakan satu titik pada kurva permintaan. Hal ini berarti bahwa harga yang disepakati kedua belah pihak berada pada perpotongan kurva permintaan dan penawaran. Oleh karena itu, silahkan pelajar Mekanime Pembetukan Harga

    7. Teori Struktur Pasar

    Teori struktur pasar adalah teori atau dalil yang menjelaskan tentang penggolangan pasar berdasarkan pada jumlah perusahaan, karakteristik atau jenis produk , dan kemudahan perusahaan atau produsen untuk masuk dan keluar dari suatu pasar.

    Struktur pasar akan dinyatakan sebagai struktur pasar yang non-kompetitif ketika terdapat perusahaan yang tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah barang dan harga barang yang ada di pasar tersebut.

    Sebaliknya, jika perusahaan  memiliki kekuatan atau kemampuan untuk mempengaruhi jumlah barang yang beredar atau harga barang yang ada di pasar, maka struktur pasar tersebut dikatakan sebagai struktur pasar yang kompetitif.

    Adapun subjek bahasan yang dapat kamu pelajari dalam teori struktur pasar ini adalah sebagai berikut:

    Contoh Ekonomi Mikro

    Contoh Ekonomi Mikro

    Pada bagian ini, penulis akan memberikan beberapa contoh penerapan ilmu ekonomi mikro dalam ekonomi indonesia. Tujuan pemberian contoh ini adalah agar memberikan kemudahan para pembaca dalam memahami seperti apa ilmu ekonomi mikro itu. Berikut adalah contoh - contohnya:
    1. Analisis Permintaan Dan Penawaran Cabai Merah Di Provinsi Sumatera Utara
    2. Analisis Kepuasan Konsumen Terhadap Kualitas Pelayanan dan Harga Produk pada Supermarket dengan Menggunakan Metode Importance Performance Analysis (IPA)
    3. Analisis Faktor-Faktor Produksi Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Robusta Di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang
    4. Analisis Pendapatan Usaha Pengrajin Gula Aren Di Desa Tulo’a Kecamatan Bulango Utara Kabupaten Bone Bolango
    5. Analisis Pemasaran Jamur Merang Lembaga Mandiri Mengakar Masyarakat (Lm3) Agrina Di Tanjong Paya Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen
    6. Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi Dengan Menggunakan Metode Full Costing Sebagai Dasar Perhitungan Harga Jual (Studi Kasus Pada Kertina’s Home Industry)
    7. Analisis Struktur Pasar Industri Karet Dan Barang Karet Periode Tahun 2009

    Demikianlah ulasan artikel saya terkait dengan apa itu ekonomi mikro, yang kami rangkum dari berbagai macam sumber bacaan favorit saya. Semoga bermanfaat untuk anda semua dalam memahami ilmu ekonomi mikro. Mohon maaf bila ada kesalahan. Saya menunggu kritik dan sarannya melalui kolom komentar di bawah. Terima kasih telah berkunjung
     
    Baca selengkapnya

    Pengertian Inflasi Adalah : Contoh, Penyebab, Dampak, Cara Mengatasi, dan Jenisnya

    Sering kita mendengar istilah inflasi. Kita mendengar istilah tersebut melalui berita, koran, portal online, dan lain sebagainya yang memberikan informasi terkait dengan harga suatu barang yang meningkat.

    Namun terkadang kita tidak tau apa yang dimaksud dengan inflasi tersebut. Nah, Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang apa itu inflasi dan apa dampak yang di timbulkan oleh inflasi tersebut ?

    Pengertian Inflasi Adalah

    Pengertian Inflasi Adalah

    Pengertian inflasi adalah suatu kondisi ekonomi dimana harga barang secara umum mengalami kenaikan yang berlangsung secara terus menerus. kenaikan harga barang yang satu akan mempengaruhi harga barang yang lainnya.

    Tidak dikatan inflasi jika hanya terdapat satu barang yang mengalami kenaikan yang berlangsung secara terus menerus. Menurut para ahli, Pada umumnya istilah inflasi juga dapat digunakan dalam memberikan gambaran terkait dengan peningkatan persediaan uang yang beredar dalam suatu wilayah yang menjadi indikator adanya peningkatan harga.

    Kurun waktu dalam inflasi relatif panjang yang ditandai mulai menaiknya harga-harga barang komplementer lainnya. Inflasi hanya dapat terjadi jika jumlah uang yang dibutuhkan lebih kecil dibanding dengan jumlah uang yang beredar, dalam artian lain inflasi akan terjadi jika terdapat persedian uang yang berdar di suatu wilayah atau negara melebihi jumlah uang yang dibutuhkan oleh wilayah tersebut.

    Tidak dikatan sebagai inflasi jika kenaikan harga bersifat sementara. Sebagai contoh misalnya kenaikan harga barang secara umum pada saat menjelang lebaran. Persedian uang yang beredar melebihi jumlah uang yang dibutuhkan karena semakin banyak THR yang diberikan oleh perusahaan, instansi, lembaga, dll kepada para tenaga kerja. Hal tersebut mengakibatkan harga barang secara umum terus meningkat. Namun setelah menjalang lebaran harga barang secara umum tersbut akan kembali turun.

    Dampak Inflasi Terhadap Perekonomian


    Inflasi yang terjadi akan memberikan sebuah dampak terhadap kondisi perekonomian. Sifat dari dampak yang ditimbulkan oleh terjadinya inflasi adalah negatif. Berikut adalah dampak yang timbulkan oleh terjadinya inflasi terhadap perkeonomian masyarakat, perusahaan, dan negara.

    Dampak Inflasi terhadap Penetapan Harga Pokok

    Penetapan harga jual suatu barang sering tidak tepat sesuai dengan yang diharapkan. Kondisi inflasi ini lebih meengacu terhadap perekonomian produsen. Prosen akan sulit untuk menetapkan harga pokok atas barang yang dia produksi.

    Harga barang yang ditetapkan tersebut dapat lebih kecil bahkan juga dapat lebih besar. Oleh karena itu, prosentasi dari inflasi yang terjadi tidak dapat diprediksi atau dengan kata lain tidak teratur yang mengakibatkan penentapan harga pokok dan harga jual barang yang diproduksi oleh produsen sering tidak tepat.

    Dampak Inflasi Terhadap Perbankan

    Terjadinya inflasi akan mengakibatkan turunnya minat masyarakat untuk mendepositokan (Menabungkan) uangnya kepada pihak bank. Hal tersebut dikarenakan oleh minimnya jumlah suku bunga yang diterima oleh nasabah yang disebabkan oleh laju inflasi yang terus meningkat. Sebagai contoh, Misalnya pada bulan maret 2010 seorang nasabah bank akan mendepositikan / menabungkan uangnya kepada bank dalam bentu deposito dengan kurun waktu satu tahun. Deposito tersebut menghasilkan bunga sebasar 15% / tahun (Misalnya).

    Jika terjadi inflasi di wilayah bank tersebut berada sepanang satu tahun yang di mulai pada tahun 2010 hingga 2011 dengan intensitas inflasi yang cukup tinggi, katakanlah 11%, maka pendapatan nasabah dari uang yang didepositkan tersebut hanya tinggal 4%. Hal tersebut akan mengurangi minat para nasabah lain untuk menabung atau mendepositkan uangnya kepada perbankan.

    Dampak Inflasi Terhadap Pendapatan

    Terjadinya inflasi dalam sebuah wilayah, akan dapat mempengaruhi besar kecilnya pendapatan yang diterima oleh masyarakat. Pengaruh inflasi dalam pendapatan masyarakat dapat menguntungkan atau merugikan.

    Bagi masayrakat yang memiliki penghasilan tetap seperti guru, karyawan, PNS, dan lain sebagainya akan merasa rugi, karena dengan penghasilan yang tetap jika di tukarkan dengan barang atau jasa akan semakin minimal, tidak sebanding. Sebaliknya, Bagi masyarakat yang memiliki penghilan yang tidak tetap seperti pengusaha, mereka akan dapat memperluas kegiatan produksianya yang akan dapat menguntungkan dan meningkatkan pendapatan mereka.

    Dampak Inflasi terhadap Ekspor

    Saat terjadinya inflasi dalam suatu wilayah atau negara, daya saing akan barang ekspor semakin menurun. Semakin menurunnya tingkat ekspor barang keluar negeri terjadi karena disebabkan karena harga barang yang semakin mahal (Akibat dari penetapan harga pokok yang tinggi).

    Hal tersebut akan memberikan tingkat kesulitan yang lebih besar kepada para eksportir dan para negarawan dalam mengendalikan perekonomian dalam negeri. Kerugian yang dialami oleh eksportir dan negarawan adalah pada penjualan barang keluar negri yang semakin menurun sehingga pendapatan devisa suatu negara akan sedikit.

    Penyebab Inflasi dalam Perekonomian Negara


    Inflasi tidak semata-mata terjadi dengan sendiri tanpa adanya penyebab yang menimbulkannya. Sebuah negara yang sedang mengalami inflasi dalam perekonomiaannya pastilah disebabkan oleh suatu hal. Hal tersebut tentunya adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam perekonomian. Berikut adalah penyebab terjadinya inflasi dalam perkonomian :

    Kenaikan Harga Barang Luar Negri (Imported Inflation)

    Dalam pasar dunia, tentunya harga barang yang diperjual belikan sangat fluktuatif, dan hal tersebut dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya barang yang tersedia pada pasar dunia. Kenaikan harga barang di luar negeri akan berpengaruh kepada harga barang yang ada ditingkat nasional. Maka dari itu, kegiatan ekspor dan impor sangat dipengaruhi oleh adanya inflasi.

    Naiknya Permintaan Barang (Deman Pull Inflastion)

    Kenikan permintaan total barang yang berlebihan juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga barang atau jasa. Salah satu faktor yang menunjang adanya peningkatan permintaan total barang adalah beredarnya persediaan uang secara berlebihan.

    Fenoma seperti itu membuktikan bahwa uang yang beredar melebih uang yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam membelanjkan barang dan jasa. Terjadinya hal tersebut akan mengakibatkan daya beli masayarakat akan suatu barang akan meningkat harga barang tersebut, yang kemudian akan berdampak pada terjadinya inflasi.

    Meningkatnya Biaya Produksi Barang (Cost Pull Inflastion)

    Kenaikan biayas produksi barang yang mengakibatkan terjadinya inflasi adalah pada tingkat produsen atau perusahaan yang memproduksi barang atau jasa. Barang dan jasa yang diproduksi dengan biaya produksi yang tinggi akan berpengaruh terhadap harga barang atau jasa yang dijual.

    Barang dan jasa yang dijual tersebut tentunya akan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya produksi yang sebelumnya meningkat.  Hal tersebut dikarenakan adanya keinginan produsen untuk menutupi dana produksi.

    Jenis - Jenis Inflasi dalam Sebuah Perekonomian


    Perlu diketahui juga, bahwa inflasi terjadi dalam sebuah negara atau wilayah itu berbeda-beda. Namu, perbedaan dalam inflasi yang berbeda, dapat dikelompokkan menajdi tiga, yaitu inflasi yang terjadi berdasarkan sumber atau asalnya, inflasi berdasarkan sifatnya, dan inflasi berdasarkan sebab terjadinya inflasi tersbut. Nah, berikut adalah ulasan singkat dan jelasnya.

    Inflasi Berdasarkan Sumbernya

    Berdasarkan sumber atau asalnya, inflasi ini lebih di spesifikkan dan di bagi menjadi dua, yaitu inflasi dari dalam negeri (domestic Inflation) dan inflasi dari pengaruh luar negeri (Imported Inflation) .

    Domestic Inflation adalah inflasi yang berasal atau bersumber dari dalam negari. Inflasi jenis yang bersumber dari dalam negeri ini disebabkan oleh adanya kegiatan ekonomi dalam negeri itu sendiri yang mengakibatkan inflasi.

    Contoh kegiatan yang menyebabkan terjadinya domestic inflation adalah misalahnya pemerintah menginstruksikan  bank sentral untuk mengedarkan persediaan uang yang tersedia dengan jumlah yang melebihi kebutuhan masayrakat dikarenakan terjadinya defisit anggaran belanja dalam waktu yang panjang. Contoh yang lain adalah misalnya terjadinya gagal panen secara menyeluruh di indonesia yang mengakibatkan kebutuhan pangan dalam negeri tidak dapat tercukupi.

    Imported Inflation adalah inflasi yang terjadi karena adanya pengaruh dari negara lain yang mengalami inflasi yang cukup tinggi (inflasi yang menular dari negara yang menjadi mitra). Pada umumnya imported inflastion dialami oleh negara-negara yang sedang berkembang. Hal tersebut dikarenakan negara berkembang, sebagai besar bahan baku dan peralator produksi mayoritas di datangkan dari luar negeri (dari negara-negara maju).

    Contoh dari imported inflation adalah misalnya negara cina mengalami infasi yang cukup tinggi dan indonesi memenuhi kebutuhan dalam negeri seperti elektronik, obat, dan lain sebagainya di impor dari cina. secara langsung indonesia juga akan mengalami inflasi.

    Inflasi berdasarkan Sifatnya

    Berdasarkan sifatnya, inflasi dapat di bagi menjadi tiga bagian yaitu Hyper Inflation, Gralloping inflation, dan moderate low inflation atau creeping inflation. Berikut adalah ulasan singkatnya.
    1. Hyper inflation adalah inflasi yang terjadinya ditandai dengan adanya kenaikan harga barang secara umum yang berjalan secara cepat (inflasi dengan waktu berkali-kali lipat). Dampak yang ditimbulkan oleh hyper inflation ini adalah penuruan nilai mata uang sehingga kurang berharga. 
    2. Galloping Inflation adalah inflasi yang terjadinya ditandai dengan adanya kenaikan harga barang secara umum yang berjalan secara cepat dengan kurun waktu tempuh yang pendek. Selain itu juga inflasi ini diiringi dengan adanya penurunan daya beli masyarakat akan suatu barang. 
    3. Moderate low inflation atau creeping inflation adalah inflasi yang terjadinya di tandai dengan adanya kenaikan harba barang secara umum yang berjalan secara lambat, namun masyarakat memiliki daya beli yang relitif tinggi. Berbeda dengan hyper inflation, pada inflasi jenis ini nilai mata yang digunakan masih sangat berharga. 

    Inflasi Berdasarkan Sebabnya

    Berdasarkan penyebab terjadinya inflasi, inflasi di bagi menjadi dua kelompok yaitu inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation) dan inflasi dorongan biaya (cost pull inflation). berikut adalah ulasan singkat dan jelasnya.
    1. Deman Pull Inflation adalah inflasi yang terjadi dalam kondisi perkonomian yang diakibatkan oleh adanya jumlah demand (permintaan) barang tidak setara dengan jumlah barang yang di tawarkan. Jumlah barang yang di minta terlalu tinggi namun tidak disertai dengan penawaran yang tinggi pula, maka akan terjadi kenaikan harga barang. Sederhanya, inflasi ini disebabkan oleh permintaan agregat masyarakat yang tinggi terhadap komoditas penting pasar barang, sehingga harga akan naik.
    2. Cost Push Inflation adalah inflasi yang terjadi dalam kondisi perekonomian yang di akibatkan oleh adanya kenaikan biaya yang digunakan dalam produksi (input produksi) atau biaya yang digunakan untuk membeli faktor-faktor produksi. Kenaikan biaya satuan input produksi tersebut akan mengakibatkan harga dari satuan barang hasil produksi akan naik.

    Cara Mengatasi Inflasi


    Dampak dari adanya inflasi dalam suatu wilayah atau negara yang di rasakan oleh berbagai macam kalang mulai dari masyarakat, perusahaan, dan negara tersebut perlu di atasi atau dikendalikan. Adanya inflasi yang terlalu tinggi tersebut akan berdampak semakin buruk terhadap perekenomian negara.

    Tindakan atau kebijakan yang dapat diambil untuk mengatasi atau mengendalikan inflasi tersebut adalah kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan kebijakan-kebijakan yang lainnya. Berikut adalah ulasan lengkapnya.

    1. Cara Mengatasi Inflasi Melalui Kebijakan Fiskal

    Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mempengaruhi penerimaan dan pengeluaran anggaran pemerintah. Kebijakan fiskal yang dapat digunakan untung mengatasi dan mengendalikan inflasi yang semakin tinggi adalah sebagai berikut:

    Menghemat Pengeluaran Pemerintah (Goverment Expenditure)

    Salah satu kebijakan dengan penghematan pengeluaran pemerintah ini akan dapat mempengaruhi tingkat inflasi yang terjadi. Dengan mengurangi pengeluaran pemerintah akan dapat meminimalisir permintaan barang dan jasa dalam negeri yang pada akhirnya akan dapat menurunkan harga barang secara umum.

    Meningkatkan Tarif Pajak Rumah Tangga dan Perusahaan

    Untuk mengendalikan atau menekan laju inflasi yang terus meningkat, pemerintah dapat mengeluarkan kebijkan peningkatan tarif pajak pada tingkat rumah tangga dan perusahaan. Hal tersebut akan meminimalisir tingkat konsumsi. Tingkat konsumsi yang semakin berkurang sedikit akan mengurangi permintaan barang dan jasa yang kemudian akan berakibat pada harga barang secara umum akan menurun.

    2. Cara Mengatasi Inflasi Melalui Kebijakan Moneter

    Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintar untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar dan daya beli uang. Kebijakan moneter yang dapat digunakan untung mengatasi atau mengendalikan inflasi yang semakin tinggi adalah sebagai berikut :

    Pengurangan Jumlah Uang yang Beredar

    Pengurangan jumlah uang yang beredar hanya dapat dilakukan oleh bank sentral yaitu bank indonesia. Hal tersebut dikarenakan bank indonesia memiliki otoritas penuh terhadap keuangan yang beredar dalam negara.

    Pengurangan jumlah uang yang beredar dalam negeri dilakukan hingga mencapai titik optimum. Artinya Jumlah uang yang beredar seimbang ataus setara dengan jumlah uang atau jasa yang tersedia. Keseimbangan tersebut akan dapat mengendalikan laju inflasi.

    Penetapan Persediaan Kas Oleh Bank Sentral

    Bank sentar (bank indonesia) memiliki otoritas penuh terhadap keuangan yang beredar dalam negara. Bank sentral berhak menetapkan persediaan jumlah uang yang beredar dengan cara menetapkan uang kas pada bak non-sentral (bank umum).

    Penetapan jumlah persediaan uang yang beredar dilakukan dengan cara memberikan instrumen kepada bank umum terkait dengan jumlah batasan uang yang di sirkulasikan kepada masyarakat. Hal tersebut akan memperlambat bahkan akan dapat mengendalikan laju inflasi.

    Menerapkan Kebijakan Politik Diskonto

    Politik diskonto adalah kebijakan yang di publikasikan oleh bank sentral sebagai pemegang otoritas utama akan beredarnya uang untuk menambah atau mengurangi jumlah uang yang beradar. Politik diskonto diterapkan dengan cara menaikkan atau menurunkan suku bunga bank. Dengan adanya kenaikan suku bunga bank akan dapat mengurangi suku bunga yang beredar sehingga akan laju pertumbuhan inflasi dapat ditekan.

    Menerapkan Kebijakan Operasi Pasar Terbuka

    Kebijakan Operasi Pasar Terbuka adalah Kebijakan yang digunakan oleh pemerintah untuk mengendalikan uang yang beredar dengan cara membeli atau menjual surat-surat yang berharga yang dimiliki oleh pemerintah seperti surat utang negara yang biasa disebut dengan SUT.

    Dalam mengendalikan uang yang beredar pemerintah akan menjual surat berharga tersebut jika pemerintah bertujuan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar. Sebailiknya, Jika pemerintah bertujuan untuk menambah jumlah uang yang beredar, maka pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah tersebut.

    3. Cara Mengatasi Inflasi Melalui Kebijakan Lain

    Dalam mengatasi atau mengendalikan laju inflasi yang terjadi, tidak hanya kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang dapat digunakan oleh pemerintah, tapi juga terdapat kebijakan-kebijakan yang selain dari kebijakan fiskal dan moneter yang dapat digunakan. Berikut adalah kebijakan lainnya yang dapat digunakan :

    Peningkatan Jumlah Barang di Pasar

    Kebijakan ini dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mengendalikan laju inflasi. Kebijakan ini dilakukan dengan cara meningkatkan jumlah barang yang dibutuhkan oleh masyarakat di pasar. Dalam menambah jumlah barang di pasar diperlukan campur tangan pemerintah dalam produksi suatu barang.

    Misalnya pemerintah memberikan subsidi terhadap produsen sehingga produsen tersebut dapat memenuhi target barang yang dibutuhkan oleh pasar. Namun, Terdapat langkah lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu dengan cara menurunkan bea cukai barang impor.

    Penetapan Harga Maksimum (Beberapa Jenis Barang)

    Dengan adanya penetapan harga maksimum beberapa jenis barang khususnya yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya laju inflasi akan dapat mengendalikan para spekulan ekonomi yang mempermainkan harga barang di pasar. dengan penetapan harga maksimum tersebut akan dengan mudah untuk mengendalikan inflasi.

    Cara Menghitung Inflasi dengan Mudah


    Fenomena kenaikan harga barang dalam kurung waktu satu tahun dapat ditinjau melalui perhitungan inflasi.  Perhitungan ini didasarkan atas Indeks Harga Konsumen (IHK).  IHK ini merupakan nilai yang digunakan untuk menghitung perubahan harga rata-rata terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga. berikut adalah rumus untuk menghitung tingkat inflasi:

    In = ((IHKn - IHKNn-1) / (IHKn-1)) *100%
    In = ((DFn - DFn-1) / (DFn-1)) *100%

    Dimana :
    In inflasi
    IHKn : Indeks Harga Konsumen tahun dasar (biasanya nilainya 100)
    IHKn–1 : Indeks Harga Konsumen tahun sebelumnya
    Dfn GNP atau PDB deflator berikutnya
    Dfn–1 :GNP atau PDB deflator tahun sebelumnya

    Melalui penggunaan rumus tersebut, nilai inflasi dalam suatu negara dapat diketahui dengan tepat.
    Menggunakan rumus tersebut juga nilai inflasi berada pada tingkat yang melebihi target, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dapat mengambil langkah tepat agar inflasi tidak semakin memburuk.
     
    Baca selengkapnya

    Pengertian Biaya Produksi Adalah, Contoh, Teori, Jenis, Rumus, Komponen (LENGKAP)

    Persoalan biaya memegang peranan yang amat penting dalam pengambilan keputusan (decision making) dari suatu usaha. Istilah biaya produksi dapat mempunyai tafsiran bermacam-macam, hingga pemakaian konsep yang jelas menjadi amat perlu. Jumlah barang yang mau diproduksikan dan dijual oleh para pengusaha dengan suatu harga tertentu sangat dipengaruhi oleh biaya produksi dalam menghasilkan barang tersebut.

    Lantas apa yang dimaksud dengan biaya produksi tersebut ? apa saja biaya-biaya yang terdapat di dalam produksi ? Apa tujuan penggunaan biaya tersebut ? dan bagaimana bentuk kurva dari setiap biaya tersebut ?. Pada kesempatan kali penulis akan berbagi informasi seputar biaya produksi yang akan dapat menjawab pertanyaan - pertanyaan di atas.

    Pengertian Biaya Produksi Adalah

    PENGERTIAN BIAYA PRODUKSI

    Pengertian biaya produksi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh produsen yang berkaitan dengan kegiatan menghasilkan produk (produksi) yang didalamnya terdapat komponen atau unsur biaya baik itu biaya langsung maupun tidak langsung seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, dan lain sebagainya.

    Dalam definisi lain disebutkan bahwa biaya produksi merupakanjumlah kompensasi yang diterima oleh pemilik faktor-faktor produksi yang dipergunakan dalam proses produksi bersangkutan. Walaupun secara umum biaya produksi dimaksudkan sebagai kompensasi yang diterima oleh para pemilik faktor-faktor produksi, namun di dalam analisis ekonomi, ia diklasifikasikan dalam beberapa golongan sesuai dengan tujuan spesifik dari analisis yang dikerjakan. Dalam jangka panjang yaitu suatu periode dimana seluruh faktor-faktor produksi dapat diubah-ubah besar dan jumlahnya, artinya tidak ada lagi faktor-faktor produksi yang bersifat tetap.

    Ada juga yang menjelaskan bahwa pengertian baiya produksi adalah akumulasi biaya yang dapat digunakan dalam proses produksi mulai awal sampai akhir (sampai pada tangan konsumen) yang mencakup biaya tenaga kerja (baik langsung maupun tak langsung), biaya bahan baku, biaya mesin, biaya overhead pabrik, dan biaya - biaya lainnya. Oleh karna itu, dalam sebuah produksi terdapat banyak unsur biaya yang dapat di klasifikasikan sesuai dengan keperluan produksi.

    Teori Biaya Produksi Menurut Para Ahli



    Pada awal artikel ini sudah kami jelaskan bahwa Istilah biaya produksi dapat mempunyai tafsiran bermacam-macam, hingga pemakaian konsep yang jelas menjadi amat perlu. Oleh karena itu, penting rasanya kita memahami pendapat para ahli tentang biaya produksi. Sebelum memhami teori biaya produksi alahkan baiknya kamu juga memahami teori produksi. Berikut adalah biaya produksi menurut para ahli, :

    Biaya Produksi Menurut Abdul Halim

    Abdul Halim seorang ekonom dari universitas gajah mada, dalam bukunya yang berjudul dasar -  dasar akuntansi biaya mendefinisikan Production cost atau biaya poduksi sebagai akumulasi biaya yang terkait langsung dengan proses produksi suatu barang dan akan dipertemukan dengan penghasilan pada periode saat barang tersebut dijual. (Abdul Halim, 1988:5).

    Biaya Produksi Menurut Amin Widjaja Tunggal

    Amin Widjaja Tunggal seorang ahli audit biaya, dalam bukunya yang berjudul "internal Auditing(suatu Pengantar" mendefinisikan Production cost atau biaya poduksi sebagai biaya-biaya yang berhubungan dengan produksi suatu item, yaitu jumlah dari bahan langsung, upah langsung dan biaya overhead pabrik. (Amin Widjaja Tunggal, 1993:1).

    Biaya Produksi Menurut Mulyadi

    Mulyadi seorang ahli ekonomi dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Biaya, Perencanaan dan Pengendalian mendefinisikan Production cost atau biaya poduksi sebagai seluruh biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi barang jadi yang siap untuk dijual. (Mulyadi, 1995:14)

    Biaya Produksi Menurut  M. Nafarin

    M. Nafarin seorang yang ahli dalam akuntansi perusahaan dalam bukunya yang berjudul "Penganggaran Perusahaan" mendefinisikan Production cost atau biaya poduksi sebagai seluruh biaya yang berhubungan dengan barang yang dihasilkan, dimana di dalamnya terdapat unsur biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. (M. Nafarin, 2009:497).

    Biaya Produksi Menurut Hansen dan Mowen

    Hansen dan Mowen, ahli ekonomi dari inggris dalam bukunya yang berjudul " Akuntansi Menejerial" mendefinisikan Production cost atau biaya poduksi sebagai total biaya yang berhubungan dengan proses pembuatan barang dan penyediaan jasa. (Hansen dan Mowen, 2002:24),

    Berdasarkan defiisi- definisi yang telah di sampaikan para ahli ekonomi di atas, dapat kita simpulkan bahwa biaya produksi adalah akumulasi biaya atau total biaya yang memiliki hubungan atau keterkaitan dengan kebutuhan produksi suatu produk, mulai awal sampai produk tersebut jatuh di tangan konsumen yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya transportasi, biaya pemasaran, dan lain sebagainya.

    Komponen Unsur Biaya Produksi



    Terdapat hal lain penting untuk kita fahami yang berkaitan langsung dengan biaya produksi yaitu unsur - unsur biaya produksi. Unsur - unsur biaya produksi yang di maksud adalah biaya - biaya yang mendukung seluruh aktifitas kegiatan produksi mulai awal sampai akhir. Seperti yang telah di sampaikan oleh  Charles T. Horngren (1993:75) dalam bukunya yang berjudul "Introduction To Management Accounting", menjelaskan bahwa biaya produksi dapat meliputi unsur-unsur sebagai berikut:
    1. Direct Material ( Bahan Baku Langsung) Biaya bahan baku langsung adalah Semua biaya bahan baku yang secara fisik bisa diidentifikasi sebagai bagian dari barang jadi dan yang dapat ditelusuri pada barang jadi itu dengan cara yang sederhana dan ekonomis.
    2. Direct Labour (Tenaga kerja langsung) Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya yang tenaga kerja yang melakukan konversi bahan baku langsung menjadi produk jadi dan dapat dibebankan secara layak ke produk tertentu.
    3. Factory Overhead (Overhead pabrik). Biaya overhead pabrik adalah biaya yang terdiri atas semua biaya manufaktur yang tidak ditelusuri secara langsung ke output tertentu. Overhead pabrik biasanya memasukkan semua biaya manufaktur kecuali bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung.  Elemen-elemen dari biaya Factory Overhead atau biasa di sebut dengan Overhead pabrik, terdiri dari beberapa biaya seperti : 
    • Biaya bahan baku tidak langsung 
    • Biaya tenaga kerja tidak langsung 
    • Biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap 
    • Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin 
    • Biaya listrik dan air pabrik 
    • Biaya asuransi pabrik Operasi lain-lain
    Unsur - Unsru biaya di atas memiliki kaitan langsung dalam kelancaran produksi suatu item yang sudah umum digunakan dalam kegiatan produksi oleh perusahaan-perusahaan baik perusahaan menengah kebawah maupun perusahaan menengah keatas. Dengan mengetahui unsur-unsur biaya produksi tersebut, kita dapat menganalisis laba rugi dalam proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan secara efektif dan efisien.

    Tujuan Penentuan Biaya Produksi



    Pada dasarnya tujuan penentuan production cost adalah untuk memaksimalkan laba perusahaan, yaitu menghasilkan pendapatan dan membandingkannya dengan biaya yang dikeluarkan. Adapun beberapa tujuan penentuan biaya produksi adalah sebagai berikut:

    1. Perencanaan dan Penentapan Biaya Produksi

    Perencanaan biaya produksi merupakan salah satu hal wajib dilakukan oleh pengusaha saat akan melakukan produksi. Sangat penting bagi setiap perusahaan untuk menetapkan production cost secara tepat. Hal tersebut dipperuntukan agar dapat diketahui besaran biaya yang diperlukan dalam proses produksi dari awal sampai akhir. Perencanaan dan penetapan biaya produksi dapat dilakukan dengan mengumpulkan dan mencatat semua bukti transaksi terkait pengeluaran biaya.

    Melalui pengumpulan bukti transaksi, pencatatan, dan penentuan atas terjadinya transaksi dengan baik akan menghasilkan penetapan biaya produksi yang tepat. Dengan harapan tidak akan pernah terjadi kekurangan biaya yang di keluarkan dalam proses produksi di awal maupun di akhir produksi hingga sampai produk tersalurkan ke tangan konsumen. Oleh karena itu biaya produksi di rancang se efisien dan se efektif mungkin.

    2. Kontrol Operasional Biaya

    Pengumpulan semua bukti transaski, pencatatan, dan penentuan biaya produksi yang efektif dan efisien akan menciptakan kemudahan dalam kontrol, pengawasan, atau pengendalian biaya yang di gunakan dalam proses produksi. Dengan begitu, tidak akan terjadi pembengkakan dalam penggunaan biaya. dan kontrol operasional biaya ini dapat mengevaluasi penggunaan biaya agar lebih efisien dan efektif.

    3. Alat Bantu dalam Pengambilan Keputusan

    Penting bagi akuntan merekap seluruh cash flow atau keuangan baik itu biaya produksi maupun pendapatan yang kemudian dapat digunakan sebagai evaluasi dan pengambilan keputusan. Penetapan biaya produksi yang jelas akan mempermudah pengusaha dalam mengambil Win Win Solution dalam bisnisnya.  Penentuan production cost atau biaya produksi juga sangat membantu suatu perusahaan untuk mengambil keputusan jangka pendek, diantaranya;
    • Pembelian bahan baku produksi
    • Pembelian alat produksi
    • Penentuan harga jual barang jadi
    • Penentuan upah tenaga kerja
    • dan lain sebagainya.

    Jenis - Jenis Biaya Produksi



    Berdasarkan definisi dan penjelasan - penjelasan tentang biaya produksi diatas, secara spesifik, biaya produksi terbagi menjadi beberapa bagian. Jenis - jenis biaya produksi tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Biaya Tetap (Fixed Cost)

    Baiay tetap atau fixed cost adalah biaya yang besarannya tidak tergantung pada banyak sedikitnya hasil produksi (output). Atau biaya variabel merupakan biaya yang timbul karena adanya penggunaan faktor produksi tetap yang besaran biayanya tidak tergantung pada tingkat barang atau jasa yang dihasilkan (output). Biaya tetap ini sangat dipengaruhi oleh waktu, dimana biaya tetap digunakan untuk periode produksi yang panjang (tidak habis dalam satu kali produksi).

    Biaya tetap juga memiliki hubungan positif dengan faktor produksi tetap. Faktor produksi tetap adalah input atau faktor produksi yang tidak berubah jumlahnya dalam satu kali proses produksi. Contoh biaya tetap seperti biaya tetap seperti biaya modal, biaya gedung, biaya alat produksi, biaya pajak tahunan, dan lain sebagainya.

    2. Biaya Variabel (Variable Cost)

    Biaya Variabel atau Variable Cost adalah biaya yang besarannya tergantung pada banyak sedikitnya hasil produksi (output). Atau biaya variabel merupakan biaya yang timbul karena adanya penggunaan faktor produksi variabel yang besaran biayanya bergantung pada tingkat barang atau jasa yang dihasilkan (output). Biaya variabel disebut juga sebagai biaya yang berubah sebagai respon terhadap perubahan dalam tingkat keluaran yang diproduksi perusahaan.

    Biaya variabel juga memiliki hubungan positif dengan faktor produksi variabel. Faktor produksi variabel adalah input atau faktor produksi yang berubah-ubah dalam satu kali proses produksi. Contoh biaya variabel seperti biaya biaya bahan baku, bahan tambahan lain yang habis dalam satu kali produksi.

    3. Biaya Tetap Total (Total Fixed Cost)

    Biaya total tetap atau total fixed cost adalah keseluruhan total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh input atau faktor - faktor produksi tetap yang besarannya tidak berubah dalam jangka pendek. Atau biaya total tetap dapat diartikan sebagai keseluruhan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan faktor-faktor produksi atau input yang tidak dapat diubah jumlahnnya dalam jangka pendek

    Biaya ini mewakili biaya-biaya untuk faktor-faktor produksi tetap. Biaya ini hanya mempunyai arti dalam jangka pendek, dimana faktor-faktor produksi yang dipergunakan merupakan faktor aproduksi tetap. Jumlah biaya ini tidak tergantung pada jumlah produk yang dihasilkan.

    4. Biaya Variabel Total (Total Variable Cost)

    Kurva Total Variable Cost
    Kurva Total Variable Cost

    Biaya ini mewakili jumlah biaya-biaya untuk faktor-faktor produksi variabel. Biaya ini dapat berbentuk uang tunai, barang atau nilai uang jasa dan kerja yang sesungguhnya tidak dibayarkan. Besar biaya variabel total ditentukan oleh fungsi produksi atau oleh produk total dari proses produksi yang bersangkutan.

    Ditinjau dari sumbu horisontal, kurva biaya variabel total mula-mula cekung dan setelah melewati titik balik B’, lalu berubah menjadi cembung. Hal ini disebabkan secara secara hipotetis produksi mula-mula berlangsung dengan kenaikan hasil bertambah, tetapi setelah titik balik mengalami kenaikan hasil berkurang. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa makin banyak jumlah produk yang dihasilkan, biaya variabel total menjadi semakin besar.

    5. Biaya Total (Total Cost)

    Biaya total merupakan penjumlahan biaya tetap total dengan biaya variabel total. Hubungan antara jumlah produksi dengan biaya total dapat dijelaskan pada gambar  39. Tanpa memperhatikan apakah produksi berlangsung dengan kenaikan hasil bertambah atau berkurang, secara umum dapat dikatakan, bahwa semakin banyak produk yang dihasilkan semakin besar biaya total yang digunakan.

    Kegunaan biaya total ini adalah untuk menentukan pendapatan dari suatu usaha. Apabila diperhatikan secara detail kurva Biaya Total (total cost) dicirikan pada saat produksi antara 0 – Y1, kurva biaya total meningkat dengan tambahan biaya yang semakin menurun, selanjutnya dengan meningkatnya produksi akan (setelah Y1) akan menyebabkan kenaikan biaya total dengan kenaikan biaya yang semakin menurun. Hal ini dikarenakan adanya keterkaitan antara kurva biaya dengan kurva produksi yang mengikuti berlakunya Law of Diminishing Return.

    Kurva TFC, TVC dan TC
    Kurva TFC, TVC dan TC

    Rumus Biaya Total (Total Cost)

    Secara matematis biaya total dapat dirumuskan seperti di bawah ini

    TC = TFC + TCV

    Dimana :
    TC   : Total Cost
    TFC : Total Fixed Cost
    TVC : Total Variable Cost

    6. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost)

    Pengertian biaya tetap rata-rata adalah pembagian antara biaya tetap total dengan jumlah produk yang dihasilkan  pada tiap tingkat produksi. Secara grafik disajikan pada gambar di bawah ini.

    Kurva Biaya Tetap Rata-rata
    Kurva Biaya Tetap Rata-rata

    Semakin banyak produk yang dihasilkan, makin rendah biaya tetap rata-rata yang dikeluarkan, akan tetapi tidak pernah sampai nol ataupun negative.Kurva Biaya tetap rata-rata turun dari kiri atas ke akanan bawah semakin mengecil biayanya akan tetapi tidak akan nol atau negative. Hal ini disebabkan dalam jangka pendek, sebuah perusahaan selalu menggunakan factor produksi tetap, sehingga jumlah rata-ratanya akan semakin kecil dengan semakin bertambahnya ju mlah produksi dan tidak akan sama dengan nol.

    Rumus Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost)

    Secara matematis Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost) dapat dituliskan seperti di bawah ini :

    AFC = TFC / Q

    Dimana:
    AFC : Average Fixed Cost
    TFC    : Total Fixed Cost
    Q      : Quantity (Jumlah Produk)

    7. Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variable Cost)

    Pengertian Biaya variabel rata-rata adalah hasil bagi antara biaya variabel total dengan jumlah produk yang dihasilkan. Apabila produk yang dihasilkan sebesar Y satuan, menggunakan faktor produksi sebesar X dan harga faktor produksi variabel Px, maka besarnya biaya variabel rata-rata (Average Variable Cost) adalah :

    X.Px/Y atau X/Y.Px = (1 / produk rata - rata).Px = Px/AP


    Hal ini menjelaskan bahwa pergerakan kurva biaya variabel rata-rata mengikuti pergerakan kurva produk rata-rata. Apabila produk rata-rata naik, maka kurva biaya variabel rata-rata menurun, begitu sebaliknya pada saat kurva produk rata-rata turun maka kurva biaya variable rata-rata naik. Pada saat produk rata-rata mencapai titik maksimum C, maka biaya rata-rata mencapai minimum.

    Kurva Biaya Variabel Rata-rata (Average Variable Cost)
    Kurva Biaya Variabel Rata-rata (Average Variable Cost)

    Produk rata-rata mencapai maksimum saat menggunakan factor produksi sebesar X1 dan memperoleh produksi sebesar Y1 dan memperoleh produk rata-rata sebesar AP1. Secara detail disajikan pada gambar di bawah ini. Kurva biaya variable rata-rata menyerupai huruf U, yang semula turun dengan kenaikan produksi, mencapai titik minimum dan selanjutnya akan naik dengan meningkatnya produksi.

    Rumus Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variable Cost)

    Secara matematis Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variable Cost) dapat dituliskan kedalam rumus seperti di bawah ini:

    AVC = TVC / Q

    Diman:
    AVC  : Average Variable Cost
    TVC  : Total Variable Cost
    Q       : Quantity (Jumlah Produk)

    8. Biaya Total Rata-Rata (Average Cost)

    Pengertian  Biaya total rata-rata adalah hasil bagi biaya total dengan jumlah produk, atau dapat juga dimaksudkan penjumlahan biaya tetap rata-rata dengan biaya variabel rata-rata. Secara matematis disimbolkan AC = AFC + AVC atau Average Cost merupakan penjumlahan antara Average Fixed Cost dan Average Variable Cost. Hubungan antara biaya total rata-rata dengan jumlah produk dijelaskan pada gambar di bawah ini.

    Kurva Biaya Total rata-rata (Average Cost)
    Kurva Biaya Total rata-rata (Average Cost)

    Gambar diatas menjelaskan bahwa kurva biaya total rata-rata (Average Cost = AC) berada diatas biaya variabel rata-rata (Average Variable Cost = AVC). Hal ini disebabkan karena biaya total rata-rata di tiap tingkat produksi lebih besar daripada biaya variabel rata-rata, dikarenakan adanya tambahan biaya tetap rata-rata (Average Fixed Cost = AFC).

    Bentuk kurva AC sama dengan AVC, hanya saja titik minimum M pada kurva biaya total rata-rata terletak disebelah kanan titik minimum kurva biaya variabel rata-rata C. Hal ini disebabkan, sampai suatu jarak tertentu setelah titik minimum kurva AVC, kenaikan AVC masih lebih kecil dari pada penurunan AFC hingga AC masih terus turun sampai AC mencapai titik minimumnya. Selanjutnya kurva biaya total rata-rata mulai naik, apabila kenaikan AC sudah lebih besar dari penurunan AFC. 

    Rumus Biaya Total Rata-Rata (Average Cost)

    Secara matematis Biaya Total Rata-Rata (Average Cost) dapat dituliskan kedalam rumus seperti dibawah ini :

    AC = TC/Q atau AC = AFC + AVC

    Dimana
    AC    : Average Cost
    TVC  : Total Variable Cost
    Q       : Quantity (Jumlah Produk)
    AFC : Average Fixed Cost
    AVC  : Average Variable Cost

    9. Biaya Marjinal (Marginal Cost)

    Pengertian Biaya marjinal adalah tambahan biaya yang dikeluarkan pengusaha untuk mendapatkan tambahan satu satuan produk pada suatu tingkat produksi tertentu.  Tambahan biaya dirumuskan DX . Px, sedangkan tambahan produk dirumuskan DY. Jadi biaya marjinal dirumuskan  :

    rumus Biaya Marjinal (Marginal Cost)

    Dengan anggapan Px konstan, maka pergerakan kurva biaya marjinal (marginal cost) mengikuti pergerakan kurva produk marjinal. Apabila produk marjinal naik maka biaya marjinal turun. Kemudian apabila produk marjinal mencapai maksimum maka biaya marjinal mencapai minimum dan akhirnya apabila kurva produk marjinal turun maka biaya marjinal naik.

    Pergerakan kurva biaya marjinal disajikan pada gambar  di bawah ini. Gambar tersebut menjelaskan bahwa kurva biaya total rata-rata (Average Cost = AC) berada diatas biaya variabel rata-rata (Average Variable Cost = AVC). Hal ini disebabkan karena biaya total rata-rata di tiap tingkat produksi lebih besar daripada biaya variabel rata-rata, dikarenakan adanya tambahan biaya tetap rata-rata (Average Fixed Cost = AFC).
    Kurva Biaya Marjinal (Marginal Cost)
    Kurva Biaya Marjinal (Marginal Cost)

    Titik minimum M pada kurva biaya total rata-rata terletak disebelah kanan titik minimum kurva biaya variabel rata-rata C, sebab sampai suatu jarak tertentu setelah titik minimum kurva AVC, kenaikan AVC masih lebih kecil dari pada penurunan AFC hingga AC masih terus turun sampai AC mencapai titik minimumnya. Kurva biaya total rata-rata baru mulai naik, apabila kenaikan AC sudah lebih besar dari penurunan AFC.

    Rumus Biaya Marjinal (Marginal Cost)

    Secara matematis Biaya Marjinal (Marginal Cost) dapat dituliskan kedalam rumus seperti di bawah ini:

    MC = ΔTC / ΔQ  atau MC = T'

    Dimana
    MC   : Marginal Cost
    ΔTC : Biaya Rata - Rata Total
    ΔQ    : Produk Rata  - Rata

    Hubungan Biaya Tetap, Variabel, Total Rata-Rata, dan Biaya Marjinal

    Kurva Hubungan antara MC, AVC, AFC dan AC
    Kurva Hubungan antara MC, AVC, AFC dan AC

    Perhatikan letak titik minimum kurva MC, AVC dan AC. Titik minimum B dari kurva MC terletak pada ordinat yang lebih rendah daripada titik A dari AVC. Titik minimum AVC lebih rendah dari titik minimum AC pada titik M. Kurva MC melewati titik minimum AVC dikarenakan pada titik tersebut besarnya produk marjinal sama dengan produk rata-rata sehingga MC sama dengan AVC.

    Apabila biaya total rata-rata turun, bi  aya marjinal akan lebih kecil daripada biaya total rata-rata, dan jika biaya total rata-rata naik maka biaya marjinal akan menjadi lebih besar daripada biaya total rata-rata. Oleh sebab itu kurva biaya marijinal (MC) akan memotong kurva biaya total rata-rata (AC) pada titik minimumnya.

    Demikian ulasan artikel kami terkait dengan Pengertian Biaya Produksi, Teori, Jenis, Kurva, Rumus, dan Contoh Biaya Produksi yang kami rangkum dari buku bacaan pribadi kami dan dapat anda jadikan sebagai bahan makalah biaya produksi. Mohon maaf bila ada kesalahan dan semoga bermanfaat.

    Contoh Dan Rumus Biaya Produksi

    Berikut adalah contoh biaya produksi beserta contohnya yang kami sajikan untuk mempermudah kamu dalam memahami bagaimana cara menghitung biaya produksi. Contoh di bawah ini adalah contoh biaya produksi untuk kegiatan produksi tempe dengan jumlah dan harga yang di asumsikan.

    Produksi Tempe Satuan Jmlh Hrga Total Hrga Rumus
    Produk Tempe Potong 130 8000 1040000 Jmlh * Hrga
    Jenis Biaya
    Biaya Tetap (FC)
    1. Sewa Gedung Unit / Prdksi 1 15000 25000
    2. Drum Unit / Prdksi 2 350 700
    3. Meja 2x1 M Unit / Prdksi 1 300 300
    4. Ember Unit / Prdksi 5 100 500
    5. Listrik KWH/Prdksi 1 1000 1000
    Biaya Total Tetap (TFC) Prdksi 1 27500 Jmlh Hrga FC
    Biaya Tetap Rata - Rata (AFC) Produk 1 211,5 TFC / Jmlh Prduk
    Biaya Variabel (VC)
    1. Bahan baku kedelai Kg 50 9000 450000
    2. Ragi gram 50 1500 75000
    Biaya Total Variabel (TVC) Prdksi 1 525000 Jmlh Hrga VC
    Biaya Variabel Rata - Rata (AVC) Prduk 4038,4 TVC / Jmlh Prdk
    Biaya Total (TC) 552500 TFC + TVC
    Biaya Rata - Rata (AC) 4250 TC / Jmlh Prdk

    Catatan :
    Perhitungan diatas tidak memasukkan Biaya Marginal (Marginal Cost). Hal tersebut dikarenakan MC membutuhkan tingkat produksi dan tingkat penggunaan faktor produksi yang berbeda.

    Contoh Soal Biaya Produksi

    Berikut saya juga akan memberi beberapa soal terkait dengan biaya produksi untuk kamu, untuk mengetahui apakah kamu bener - bener faham tentang biaya produksi atau tidak. Silahkan berikan jawaban anda di kolom komentar.

    1. Bagaimana hubungan antara biaya variabel dengan faktor produksi variabel ?
    2. Sebelum menentukan biaya rata - rata, biaya apa yang harus ditentukan terlebih dahulu ?
    3. Berikut ini hal-hal yang dianggap benar berkaitan dengan biaya produksi, kecuali …
    a. Kurva average fixed cost (AFC) berbentuk horizontal
    b. Kurva marginal cost (MC) memotong kurva average cost (AC) di titik minimum.
    c. Kurva avarage cost (AC) berada di atas kurva average variabel cost (AVC)
    d. AC = AFC + AVC
    e. Kurva variable cost (VC) naik dari kiri bawah ke kanan atas dimulai dari titik origin.


    SUMBER REFRENSI
    • Hariyati, Yuli. 2007. Ekonomi Mikro. Jakarta: CSS.
    • Farissi, Analisis Biaya Produksi PT Medco Etanol. https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/646/jbptunikompp-gdl-farissifri-32267-13-jurnalf-i.pdf . Diakses pada 4 September 2019. 
    • Dian. Unsur - Unsur Biaya . https://www.kompasiana.com/dhanatsr/56406be1727a61d606048be2/pengertian-unsur-dan-tujuan-biaya-produksi?page=all. Diakses 4 September 2019.
    • Charles T. Horngren (1993:75) Introduction To Management Accounting. Englewood Cliff New Jersey.
    Baca selengkapnya